PARIWISATA di Kota Sawahlunto Provinsi Sumatra Barat bisa jadi belum sefamiliar pariwisata di Bukit Tinggi, Payakumbuh, Kawasan Mandeh, dan daerah lainnya di Sumatra Barat. Tapi sejatinya, Sawahlunto memiliki potensi besar yang objek pariwisatanya justru sama sekali tidak dimiliki daerah-daerah lain di Sumatra Barat, bahkan Indonesia sekali pun.
Sejak ditetapkan UNESCO sebagai Warisan Dunia pada 2019, mata para pengambil kebijakan di Sawahlunto mulai “terbuka”. Sawahlunto merupakan daerah yang menyimpan banyak sejarah bidang pertambangan warisan kolonial Belanda. Bahkan, bangunan-bangunan peninggalan sejarah tersebut masih dalam kondisi sangat baik.
Menyadari potensi besar itu, Dinas Pariwisata Pemuda dan Olahraga Kota Sawahlunto berkolaborasi dengan Inna Ombilin Heritage Hotel mengundang sejumlah agen perjalanan wisata atau travel agent dari berbagai provinsi tetangga dengan satu tujuan akhir: MEMAJUKAN PARIWISATA SAWAHLUNTO.
Acara yang dikemas dengan tajuk “Travel Agent Gathering” digelar tiga hari, 29-31 Maret 2021. Provinsi yang diundang yakni Jambi, Riau, dan Sumatra Utara. Lalu, ada juga dari Pulau Jawa seperti DKI Jakarta dan Jawa Timur.
Dari Jambi, 5 orang yang hadir. Semuanya pengurus Asosiasi Pelaku Pariwisata Indonesia (ASPPI) Provinsi Jambi. Masing-masing, Ketua ASPPI Jambi, Herman P Bakara (Bisalfa Tour&Travel), Sekretaris M Surtan (Ang Tour&Travel), Wakil Ketua Supriono (Lalina Tour&Travel), Wakil Ketua Dona Piscesika (JEO Tour&Travel), dan Wakil Bendahara Lina Roshanti (Bintang Bali Tour&Travel).
Peserta diinapkan 2 malam di Inna Ombilin Heritage Hotel dan sejumlah homestay yang ada di Kota Sawahlunto. Seluruh akomodasi dan tranpsortasi selama kegiatan ditanggung panitia.
Selama tiga hari, selain mengunjungi sejumlah lokasi wisata, juga dilakukan diskusi terkait pariwisata di Kota Sawahlunto.
Hari pertama dan kedua, Dinas Pariwisata Pemuda dan Olahraga Kota Sawahlunto sengaja mengajak peserta mengunjungi destinasi wisata yang masih kurang dalam hal sarana dan prasarana, tapi memiliki potensi untuk dikembangkan. Sebut saja pegolahan kopi tradisional di Desa Silungkang, Kampung Tenun di Desa Tenun Batumananggau, dan Geopark Batu Runcing. Lalu, Camping Ground di kawasan Kandi, Tubing Rafting di Desa Wisata Rantih, melihat pembuatan makanan tradisional Kare-kare, trecking ke Air Terjun Bikan, dan diakhiri ke Taman Buah.
Di hari berikutnya, atau hari terakhir, destinasi yang dikunjungi jauh lebih siap untuk dijual. Yakni, Lubang Tambang Mbah Suro & Galeri Infobox, Museum Gudang Ransoem, Museum Tari, Museum Lukis Etnografi, Museum Alat Musik , dan Museum Tambang.
Meski cukup banyak destinasi wisata yang dikunjungi, sejatinya itu baru beberapa saja. Masih banyak destinasi yang belum dikunjungi. Namun, secara garis besar, penulis melihat Kota Sawahlunto sudah siap menjadi Kota Wisata Tambang yang Berbudaya dengan melibatkan masyarakat. Peningkatan penerimaan masyarakat terhadap wisatawan ini sangat penting, baik dalam mapun luar negeri, karena akan banyak wisatawan yang datang ke Kota Sawahlunto.
Dengan kepala dinasnya yang masih muda dan memiliki visi jauh ke depan, didukung para staf yang dominan masih muda dan energik, penulis yakin pariwisata Kota Sawahlunto akan tumbuh pesat dan menjadi sumber PAD seperti daerah-daerah wisata lain di Sumatra Barat.
Apalagi mereka selalu siap menerima kritikan dan masukan seperti saat sesi diskusi, dan tetap menjaga komitmen untuk tujuan akhir memajukan pariwisata Kota Sawahlunto. Ayo buktikan sendiri dengan mendatangi kota ini.
Ah andai saja Jambi bisa melakukan seperti yang dilakukan Pemerintah Kota Sawahlunto ini.(*)