Media Harus Berperan Hentikan Stigma Negatif Terhadap Penderita HIV

Rabu, 30 Desember 2020

(ist/onlinejambi.com)

ONLINEJAMBI.COM – Media massa diharapkan memainkan perannya sebagai agen penyebaran informasi terkini dan paling akurat terkait HIV/AIDS sehubungan dengan upaya melakukan penanganan dan pencegahan menuju akhir aids pada tahun 2030.

"Media harus berperan dalam menyetop stigma negatif masyarakat terhadap orang dengan HIV/AIDS (ODHA),” ujar Ketua Badan Pembina Yayasan Kemitraan Indonesia Sehat (YKIS), Prof. Irwanto dalam kegiatan Temu Media dengan tema dengan tajuk “Tahun Baru dan Semangat Baru Menuju Akhir Aids 2030: Sanggupkah Kita atau Retorika Semata” secara luring dan daring, Selasa (29/12), pukul 09.00 hingga 12.00.

Pada Temu Media ini, Irwanto memaparkan materi tentang Perubahan Dimulai dari Kita: Membangun Peran Serta Masyarakat Dalam Rangka Mendukung Tujuan Program Penanggulangan HIV di Indonesia.

Irwanto menegaskan sudah seharusnya pihak terkait di bidang kesehatan bekerja sama dengan media untuk meningkatkan pemahaman terhadap penyakit HIV/AIDS.

Selain Irwanto, pembicara lainnya, yakni Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Hasto Wardoyo yang membawakan materi dengan judul: Cegah dan Kendalikan HIV; Membangun Strategi Promotif dan Pencegahan Inklusif Menuju Masyarakat Berketahanan.

Pembicara lainnya, Siti Nadia Tarmizi selaku Direktur P2PML Kementerian Kesehatan RI dengan materi; Berani Tes HIV karena HIV ada obatnya: Implementasi Strategi 95-95-95 menuju era 3 Zeroes Tahun 2030 Penanggulangan HIV di Indonesia.

Kemudian, Direktur Rehabilitasi Sosial, Tuna Sosial dan Korban Perdagangan Orang Kementerian Sosial RI, Waskito Budi Kusomo. Dia membawakan materi tentang Ketangguhan Orang dengan HIV, Lawan Stigma dan Diskriminasi: Inovasi Implementasi Program Rehabilitasi Sosial di Indonesia.

Sementara itu Kepala BKKBN Hasto Wardoyo mengatakan kasus HIV tertinggi di lima Provinsi di Indonesia masih berada di Pulau Jawa selain Papua. Oleh karena itu harus dilakukan upaya pencegahan di Pulau Jawa sehingga akan berpengaruh secara nasional.
"Tentu ini menjadi perhatian penting, namun demikian secara klinis yang menjadi manifestasi memang di Papua yang menjadi perhatian penting karena terkait dengan kedisiplinan dalam pengobatan," ujarnya.

Hasto menyampaikan yang menjadi perhatian BKKBN adalah usia produktif atau remaja yang memasuki usia 20--29 tahun. Pentingnya pendidikan kesehatan reproduksi bagi remaja sudah seharusnya diperhatikan untuk mencegah segala permasalahan remaja seperti seks pranikah, HIV/Aids, dan NAPZA.

"BKKBN menjawab permasalahan tersebut salah satunya dengan berupaya  meningkatkan ketahanan dan kesejahteraan keluarga yang holistik dan integratif sesuai siklus hidup, serta menguatkan pembentukan karakter di keluarga melalui salah satu strategi, yaitu: peningkatan pola asuh dan pendampingan remaja, peningkatan kualitas dan karakter remaja, serta penyiapan kehidupan berkeluarga bagi remaja," ujarnya.(*)





BERITA BERIKUTNYA
loading...