Layani Masyarakat Pelosok Negeri, Pertamina Hadirkan Pertashop

Sabtu, 31 Oktober 2020

Warga mengisi Pertamax di Pertashop Desa Kemingking Dalam, Kecamatan Taman Rajo, Kabupaten Muaro Jambi, Jambi.
Warga mengisi Pertamax di Pertashop Desa Kemingking Dalam, Kecamatan Taman Rajo, Kabupaten Muaro Jambi, Jambi. (surtan/onlinejambi.com)

ONLINEJAMBI.COM -  Nia tidak pernah menyangka bisa membeli Pertamax dengan harga yang lebih murah dari Pertalite.

“Cuma Rp9.200 per liter. Takarannya juga pas,” ujarnya.

Biasanya, Nia yang tinggal di Desa Kemingking Dalam, Kecamatan Taman Rajo, Kabupaten Muaro Jambi, Jambi, membeli Pertalite untuk konsumsi kendaraan bermotornya di penjual eceran dengan harga Rp10.000 per liter, meski harga resmi hanya Rp7.825 per liter.

“Itu pun belum tentu takarannya pas 1 liter, karena ukurannya hanya botol bekas,” ujarnya.

Sementara Sabri, warga Desa Bukit Sari, Jujuhan Ilir, Kabupaten Bungo, Jambi malah terkadang membeli Pertalite di penjual eceran di desanya hingga Rp12.000 per liter.

“Mau ke SPBU jauh, pulang pergi bisa satu jam lebih. Lebih enak sekarang, membeli minyak (BBM, red) di Pertashop. Harga lebih murah, kualitas terjamin, dan lebih top,” ujarnya.

Untuk ke SPBU terdekat, kata Sabri, dia harus menempuh jarak sekitar 55 kilometer. Sedangkan Nia lebih dekat yakni 15 kilometer.

Apa yang disampaikan Nia dan Sabri ini mewakili ratusan, bahkan ribuan warga di lima kabupaten di Provinsi Jambi yang desanya sudah beroperasi Pertashop.

Warga sangat terbantu dengan kehadiran Pertashop. Alasannya, mereka mendapatkan BBM dengan kualitas terbaik, harga dan takaran juga pas.

Tahun 2020, Pertamina memang melakukan terobosan luar biasa dalam hal memenuhi hak konsumen, yakni pelayanan tanpa batas hingga pelosok negeri. Caranya, meluncurkan program pembangunan Pertamina Shop (Pertashop) yang hadir untuk memenuhi kebutuhan energi masyarakat pelosok.

Pertashop merupakan lembaga penyalur Pertamina berskala kecil, untuk melayani kebutuhan konsumen BBM yang tidak atau belum terlayani oleh lembaga penyalur resmi Pertamina lainnya seperti stasiun pengisin bahan bakar untuk umum (SPBU). Selain BBM khusus Pertamax, Pertashop juga menyediakan produk unggulan Pertamina yang lain seperti LPG Bright Gas dan Pelumas.

Di Provinsi Jambi, sudah beroperasi 13 unit Pertashop yang tersebar di lima kabupaten, yakni Kabupaten Muarojambi 3 Pertashop, Batanghari (2), Merangin (1), Bungo (4), dan Tanjungjabung Timur 3 Pertashop.

Jarak SPBU terdekat dari Pertashop beragam. Ada yang berjarak 11,2 kilometer hingga 55 kilometer.

“Minimal memang 10 kilometer,” ujar Sales Branch Manager Jambi II Pertamina, Moh. Riza Rahmat kepada Onlinejambi.com.

Riza menjelaskan, Pertashop menjadi bagian penting program One Village One Outlet (OVOO) yang bertujuan untuk menjangkau wilayah terpencil yang belum terlayani oleh SPBU reguler, sehingga masyarakat mendapat hak yang sama untuk mencukupi kebutuhan energi sebagaimana masyarakat perkotaan.

"Pertashop dibangun dengan skema kerjasama antara Pertamina dengan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes). Keberadaan program ini dapat mendorong perekonomian di pelosok," jelasnya.

Konsep kerjasama Pertashop memiliki tiga kategori, yakni Gold, Platinum, dan Diamond. Gold berkapasitas penyaluran BBM 400 liter per hari, dengan luas lahan 144 meter persegi.

Platinum berkapasitas penyaluran BBM 1.000 liter per hari, dengan luas lahan 200 meter persegi. Sementara untuk Diamond berkapasitas penyaluran 3.000 liter per hari, dengan luas lahan 500 meter persegi.

Ia menambahkan, Pertashop hanya menyediakan BBM jenis Pertamax karena bertujuan untuk memperkenalkan produk berkualitas di Pertamina. Karena di dunia, negara yang masih menggunakan BBM dengan Research Octane Number (RON) di bawah 92 hanya 6 negara, salah satunya Indonesia yang masih menggunakan Premium dan Pertalite.

"Isu lingkungan menyebutkan polusi yang dihasilkan Premium dan Pertalite itu masih tinggi dan tidak sesuai dengan standar internasional. Maka dari itu, kita memperkenalkan Pertamax," tandasnya.

Untuk menjadi mitra Pertashop, silakan daftar melalui https://kemitraan.pertamina.com/, dilanjutkan verifikasi lapangan, administrasi, persyaratan pemerintah daerah dan penguasaan lahan, ijin bangunan berupa desain yang disetujui oleh Pertamina, dan proses pembangunan.

Setelah itu, akan dilakukan kontrak kerjasama dengan Pertamina dalam jangka waktu sepuluh tahun sehingga Pertashop bisa operasional secara berkelanjutan.

Pertashop, Terobosan yang Luar Biasa

Dr. Pantun Bukit, pengamat ekonomi dari Universitas Batanghari, Jambi, menilai Pertashop merupakan terobosan yang luar biasa dari Pertamina.

Sejatinya, kata Pantun, anggaran yang dikuncurkan pemerintah ke desa-desa cukup besar, Rp1 milar lebih setiap tahun. Tapi sampai sekarang ekonomi di desa belum bergerak.

“Artinya dana-dana yang dikucurkan itu belum bisa menggerakkan para entrepreneur di desa-desa,” ujarnya.

Lalu sekarang ada peluang dari Pertamina melalui Pertashop, yang diharapkan bisa menumbuhkan jiwa-jiwa entrepreneur atau kewirausahaan di desa-desa.

“Menggerakkan BUMDes dengan usaha seperti Pertashop, Pertamina jadi akan lebih dekat dengan masyarakat. Tujuan Pertashop sangat bagus dan tepat. Dana desa bisa tepat sasaran, di sisi lain jiwa kewirausahaan di desa jadi tumbuh,” ujarnya.

Untuk mencapai tujuan tersebut, Pertamina harus kerjasama dengan BUMDes dengan memberikan pelatihan dan pembinaan, baik untuk administrasi, teknis, dan lainnya.

“Bangun kemitraan, mendidik atau mengedukasi sehingga BUMDes bisa tumbuh dan berkembang. BUMDes harus jadi lokomotif perekonomian di desa. Perekonomian nasional bisa kuat jika tumbuh dari desa-desa,” ujarnya.

Pantun juga melihat, jangka panjang dari program Pertamina ini adalah membiasakan masyarakat membeli BBM non subsidi.

“Dengan terbiasa membeli BBM non subsidi, maka jika nanti subsidi benar-benar dihapus, masyarakat sudah terbiasa. Subsidi pun akan lebih tepat sasaran,” ujarnya.

Selain itu, dengan Pertashop, pemasaran Pertamina akan menjadi lebih luas, minyak non subsidi bisa terjual. Selama ini, Pertamax sulit terjual, apalagi di luar Kota Jambi.

“Cara ini lebih efektif untuk menghapus subsidi secara bertahap,” bebernya.

Perlu juga diperhatikan agar margin harga tidak terlalu tinggi antara yang subsidi dengan non subsidi.

Jika margin terlalu tinggi, akan sulit mengubah pola pikir masyarakat yang terbiasa bertahun-tahun dengan subsisi. Tidak akan bisa berubah dalam waktu cepat.

“Harga Satu Untuk Indoensia seperti yang pernah disampaikan Presiden Joko Widodo memang harus dilakukan. Pertamina harus menyentuh ke level-level desa. Ada potensi karena desa ada anggaran,” ujarnya.

Selain itu, untuk terus meningkatkan layanan kepada masyarakat, Pertamina harus melakukan sinergi dengan pihak-pihak terkait, seperti perguruan tinggi, dinas-dinas, dan lainnya sebagai perpanjangan Pertamina untuk melakukan pelatihan dan pembinaan.

“Memang harus dikeroyok bersama agar tujuan meningkatkan perekenomian di desa-desa bisa tercapai,” tandasnya.

Pertashop Sangat Membantu Kebutuhan BBM Masyarakat

Kepala Desa Kemingking Dalam, Kecamatan Taman Rajo, Kabupaten Muaro Jambi, Jambi, Anang Fahri mengatakan kehadiran Pertashop sangat membantu kebutuhan BBM masyarakat.

"Sebelum ada Pertashop ini, masyarakat mendapatkan BBM harus menempuh jarak belasan kilometer. Alhamdulillah, sekarang sudah ada di desa kita, jadi tak perlu jauh lagi," ujarnya.

Diakuinya, meskipun BBM jenis Pertamax yang dijual, namun harganya jauh lebih murah ketimbang BBM eceran jenis Premium dan Pertalite yang bisa mencapai Rp10.000 per liter.

"Ngisi BBM di Pertashop takarannya pasti pas dibandingkan jual eceran," sebutnya.

Ia menambahkan, penjualan BBM di Pertashop Desa Kemingking Dalam sekitar 150-300 liter per hari.

Hal senada juga disampaikan Basar, Kepala Desa Solok, Kecamatan Kumpeh Ulu, Kabupaten Muaro Jambi, Jambi. Masyarakat sangat senang dengan kehadiran Pertashop.

“Tak perlu lagi menempuh jarak yang jauh untuk mendapatkan BBM,” ujarnya.(*)





BERITA BERIKUTNYA
loading...