"Lumayan untuk Menambah Uang Dapur", Kisah Warga Raih Cuan Lewat Program Binaan Pertamina

Jumat, 30 Oktober 2026

Tanaman pakcoy di greenhouse Kelompok Rezeki 3 Putra. Selain pakcoy, mereka juga menanam selada dan sawi kailan.
Tanaman pakcoy di greenhouse Kelompok Rezeki 3 Putra. Selain pakcoy, mereka juga menanam selada dan sawi kailan. (istimewa/onlinejambi.com)

ONLINEJAMBI.COM - Kemarau panjang di Kota Jambi yang disertai kabut asap tidak menyurutkan langkah para petani hidroponik yang tergabung dalam Kelompok Rezeki 3 Putra untuk tetap beraktivitas.

Mereka berupaya agar tetap bisa memanen tanaman hidroponik yang dibudidayakan, seperti pakcoy, selada, dan sawi kailan.

“Cuaca saat ini kurang bagus. Namun, sayurannya akan segar kembali nanti jika rutin disiram,” ujar  Syaiful Ahyar, pengurus Kelompok Rezeki 3 Putra, sambil memperlihatkan sayuran hidroponik di dalam greenhouse berukuran 16x11 meter. Sayuran yang ditanam tersebut terlihat masih kecil dan kurang segar.

Greenhouse yang berlokasi di  Jalan Raden Patah, RT 01, Kelurahan Sijenjang, Kecamatan Jambi Timur, Kota Jambi, tersebut merupakan salah satu bantuan sarana dari PT Pertamina Patra Niaga Fuel Terminal (FT) Jambi.

Selain greenhouse, bantuan yang diberikan oleh Pertamina meliputi 1 unit genset, 2 unit tedmon kapasitas 1.000 liter, serta 2 unit mesin air. Bantuan lainnya berupa pupuk, busa, bibit, alat ukur pupuk, serta alat pengukur suhu.

Syaiful mengatakan bahwa Kelompok Rezeki 3 Putra berdiri pada tahun 2022 dengan jumlah anggota sebanyak sepuluh orang.

Pada awal pembentukan kelompok, ujar Syaiful, ketua RT 01 saat itu, Linda, mengundang seluruh warga. “Yang berminat hanya 10 orang dari 100 KK,” ujar Syaiful.

Meski hanya diikuti 10 orang, pembentukan kelompok tetap dilaksanakan dan Linda terpilih sebagai ketua. Setelah kelompok terbentuk, mereka mengajukan proposal bantuan ke Pertamina dan disetujui.

Usaha hidroponik pun berjalan dan beberapa kali memanen sayur. Namun, sempat vakum pada akhir Desember 2022 karena Linda meninggal dunia akibat sakit yang dideritanya.

“Aktivitas sempat kosong karena anggota tidak tahu cara  mengelola, memasarkan produk, dan hal lainnya,” ujar Syaiful.

Akhirnya, Syaiful beserta istrinya mengambil alih usaha tersebut. Anggota yang tidak aktif segera diganti hingga usaha hidroponik dapat kembali berjalan.

Untuk pemasaran, kata Syaiful, sudah ada pihak yang menampung, yaitu Komunitas Hidroponik Sedulur. Melalui komunitas ini pula, mereka banyak belajar mengenai usaha hidroponik.

“Meski penghasilan dari hidroponik tidak menentu, usaha ini sudah bisa membantu keuangan keluarga. Jadilah untuk menambah-nambah penghasilan,” ujar Syaiful.

Syaiful menambahkan bahwa saat panen sayur, tidak semua produk dijual. Sebagian ada yang disisihkansecara  gratis untuk tetangga sekitar.

“Hasil panen yang tidak bagus kami sortir untuk digunakan sebagai bahan pakan maggot, yang juga merupakan bagian dari kelompok binaan Pertamina,” ujarnya. 

Hal senada diungkapkan oleh Ruswandi, Ketua Kelompok Usaha Sehati. Kelompok ini merupakan pengembangan dari Kelompok Hidroponik Rezeki 3 Putra yang berlokasi di RT 02 kelurahan setempat.

Kelompok Usaha Sehati berdiri pada tahun 2023 dengan greenhouse berukuran 10x10 meter. Sama seperti Kelompok Rezeki 3 Putra, Kelompok Usaha Sehati juga mendapat bantuan sarana dan prasaran pendukung usaha dari Pertamina.

“Usaha ini ditujukan untuk menambah penghasilan keluarga. Lumayan untuk menambah uang dapur,” ujarnya.

Baik Syaiful maupun Ruswandi mengusulkan kepada Pertamina untuk mengganti dinding jaring greenhouse yang sudah banyak sobek. Usulan lainnya adalah adanya program peningkatan sumber daya manusia (SDM) bagi anggota kelompok.

Maggot yang digunakan sebagai pakan ternak ayam. 

Tak jauh dari lokasi usaha hidroponik, dikembangkan pula usaha maggot dan ternak ayam kampung. Dua usaha bantuan Pertamina ini dilakukan oleh satu kelompok, yakni Kelompok Bina Mandiri yang diketuai oleh Agustian.

Tian mengatakan bahwa usaha maggot dimulai pada akhir tahun 2023, sedangkan ternak ayam dimulai pada tahun 2024.

“Awalnya dibantu 1.300 ekor ayam. Itu yang dikembangbiakkan sampai sekarang,” ujar Tian.

Selain bibit ayam, Pertamina juga membantu sarana dan prasarana penunjang lainnya, seperti kandang, pakan, peralatan makan dan minum ternak, serta pembangkit listrik tenaga surya (PLTS).

PLTS ini, kata Tian, sangat membantu menghemat pengeluaran operasional listrik. Dulu, sebelum menggunakan PLTS, untuk ayam yang hanya 700 ekor saja biaya listriknya bisa mencapai Rp300.000,00 hingga Rp400.000,00 per bulan.

“Dengan adanya PLTS ini, biaya listrik bisa ditekan seminimal mungkin,” ujarnya.

Saat pagi hingga sore, jika cuaca panas, mereka bisa menggunakan PLTS untuk aliran listrik. Saat matahari terbenam pun, listrik dari PLTS masih bisa digunakan selama 4 hingga 5 jam. 

Untuk pemasaran ayam, kata Tian, mereka menjualnya ke pasar-pasar. Terkadang, ada juga masyarakat yang datang langsung ke kandang untuk membeli ayam.

Sementara itu, maggot digunakan sebagai pakan ternak ayam.  Pakan maggot sendiri didapat dari limbah usaha hidroponik Kelompok Rezeki 3 Putra dan Usaha Sehati.

“Dengan adanya usaha ini, kami sangat terbantu untuk menambah kebutuhan sehari-hari,” ujarnya.

Tian mengatakan bahwa jumlah anggota Kelompok Bina Mandiri ada sepuluh orang, tetapi yang aktif hanya tujuh orang. Sebagian besar dari mereka bekerja di pabrik dan galian pasir.

Budi daya ikan lele dengan media bioflok di Kampung Bioflok Laju.

Di kelurahan yang berbeda, yakni Kelurahan Kasang, Pertamina mengembangkan budi daya ternak ikan lele menggunakan media bioflok. Usaha ini dilakukan oleh Kelompok Lamperkas (Lampu Merah Pertamina Kasang), yang saat ini berubah nama menjadi Kampung Bioflok Laju (Lele Kasang Maju).

Kampung Bioflok Laju dikelola oleh pasangan suami istri, Rosidin dan Selvi, sebagai pekerjaan utama mereka. Lokasi Kampung Bioflok Laju berada di RT 01, Jl. Raden Fatah, Kelurahan Kasang, Kecamatan Jambi Timur, Kota Jambi.

Selvi mengatakan bahwa jumlah total bioflok saat ini mencapai 17 unit dengan masing-masing bioflok berdiameter 4 meter.

Bantuan Pertamina, kata Selvi, berupa 3.000 benih ikan lele. Setelah dikembangbiakkan, hasil penjualan dari 3.000 ekor lele ini dibelikan 6 bioflok yang digunakan hingga kini. Selain benih, Pertamina juga memberikan bantuan berupa sumur bor, pompa, dan aerator.

Selvi mengatakan bahwa bantuan Pertamina kepada Kelompok Lamperkas dilakukan pada tahun 2023. Namun, pada tahun 2024, Kelompok Lamperkas kurang berjalan, sehingga 6 bioflok dipindahkan ke lokasi yang saat ini dikelola oleh Kampung Bioflok Laju.

Selvi mengatakan bahwa sebagai usaha utama, budi daya lele ini sangat membantu keuangan keluarganya. Dari 1 biloflok, bisa memanen 25 sampai dengan 50 kilogram dalam waktu 2 bulan. Hasil panen dijual ke pasar atau pembeli datang langsung ke lokasi.

Selvi mengatakan bahwa yang dibutuhkan saat ini adalah genset karena sering mati lampu. Selain itu, bantuan lain yang diharapkan berupa mesin untuk membuat pakan sehingga bisa menekan biaya pakan.

“Biaya yang besar itu adalah listrik, yaitu Rp800.000,00 per bulan,” ujarnya.

Pertamina Patra Niaga FT Jambi Berdayakan Masyarakat Sijenjang Lewat Program Kampung JEMARI

Community Development Officer PT Pertamina Patra Niaga Fuel Terminal Jambi, Nisrina Salsabila, mengatakan bahwa Program Kampung JEMARI (Sijenjang Maju dan Berdikari), Kelurahan Sijenjang, Kecamatan Jambi Timur, Kota Jambi adalah bagian dari program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) atau corporate social responsibility (CSR) yang diinisiasi oleh Pertamina. 

Program pemberdayaan masyarakat ini berfokus pada pengembangan ekonomi, lingkungan, dan ketahanan pangan berbasis masyarakat.

Program Kampung JEMARI melibatkan masyarakat setempat secara aktif, yang terbagi ke dalam beberapa kelompok binaan utama, yakni Kelompok Rezeki 3 Putra, Kelompok Usaha Sehati, Kelompok Bina Mandiri, dan Kelompok Lamperkas (Lampu Merah Pertamina Kasang).

Program Kampung JEMARI mulai diinisiasi dan dijalankan secara bertahap sejak tahun 2023. Pada April 2024, Pertamina secara resmi menyerahkan berbagai bantuan sarana dan prasarana penunjang bagi kelompok-kelompok binaan di wilayah Kelurahan Sijenjang untuk mempercepat kemandirian program. 

Awal mula terbentuknya Program Kampung JEMARI didasari oleh komitmen Pertamina untuk memberdayakan wilayah yang berada di sekitar area operasional (Ring 1) perusahaan. 

Ada beberapa faktor utama yang mendasari Pertamina memilih Kampung JEMARI sebagai lokasi program TJSL. Pertama, wilayah Sijenjang memiliki potensi lahan pertanian dan area terbuka yang cukup luas, tetapi awalnya belum dimanfaatkan secara optimal oleh masyarakat sekitar. Pertamina melihat peluang untuk mengubah lahan ini menjadi area produktif guna menunjang ketahanan pangan. 

Kedua, Sijenjang berada di Kecamatan Jambi Timur, tidak jauh dari lokasi Pertamina. Berdasarkan prinsip keberlanjutan, masyarakat terdekat dari area operasional wajib menjadi penerima manfaat utama dari program pemberdayaan ekonomi perusahaan. 

Ketiga, sebagian masyarakat lokal membutuhkan stimulan ekonomi pascapandemi dan dorongan kemandirian usaha. Pertamina mengintegrasikan program bantuan modal, alat, serta pelatihan agar masyarakat tidak bergantung pada bantuan instan, melainkan mampu mandiri secara finansial. 

Program ini tidak berjalan instan, melainkan melalui beberapa fase pendekatan. Pertamina melalui tim Community Development Officer (CDO) melakukan survei dan diskusi dengan tokoh masyarakat serta pemerintah setempat untuk memetakan masalah lingkungan dan ekonomi yang dihadapi warga Sijenjang.

Dari hasil pemetaan, dibentuklah kelompok-kelompok kerja spesifik agar pembagian tugas lebih fokus. Warga kemudian dimasukkan ke dalam beberapa kelompok.

“Awal mula program difokuskan pada pengelolaan lingkungan melalui Program Kampung Iklim (ProKlim). Warga diajarkan mengelola sampah, melakukan penghijauan, serta memanfaatkan pupuk organik untuk pertanian mereka,” ujar Bila.

Setelah kelompok berjalan stabil, Pertamina menyalurkan bantuan sarana fisik (seperti peralatan pertanian, bibit tanaman, dan fasilitasi pemasaran) untuk mempercepat proses produksi pertanian dan dan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) agar produknya memiliki nilai jual tinggi. 

Melalui pendekatan berbasis kebutuhan riil masyarakat ini, Kampung JEMARI berhasil ditransformasi dari kawasan permukiman biasa menjadi kampung percontohan ketahanan pangan terpadu di Kota Jambi. 

Setelah berjalan dan memasuki tahap pengembangan, program ini dievaluasi secara berkala hingga penyusunan laporan Indeks Kepuasan Masyarakat (IKM) untuk mengukur dampak sosial-ekonominya yang nyata bagi warga setempat. 

Program pemberdayaan ini terus berjalan secara berkelanjutan guna mewujudkan kemandirian pangan dan ekonomi di kawasan Sijenjang.

Transformasi TJSL Pertamina di Kampung JEMARI: Dari Karitatif Menuju Pemberdayaan Mandiri

Dari perspektif sosial ekonomi, menurut dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Jambi, Dr. Andang Fazri, S.T., M.M., program Kampung JEMARI merupakan inisiatif pemberdayaan masyarakat yang memiliki nilai strategis karena menggabungkan tiga agenda pembangunan sekaligus, yaitu penguatan ekonomi masyarakat, ketahanan pangan lokal, dan pengelolaan lingkungan melalui pendekatan ekonomi sirkular.

Hal yang perlu digarisbawahi adalah bahwa keberhasilan program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) atau corporate social responsibility (CSR) tidak cukup hanya diukur dari jumlah bantuan sarana yang diberikan atau jumlah kelompok masyarakat yang dibentuk.

Keberhasilan sesungguhnya harus diukur dari kemampuan masyarakat mengelola usaha secara produktif, memperoleh tambahan pendapatan, membangun kelembagaan ekonomi, dan mempertahankan kegiatan usaha setelah dukungan perusahaan berkurang.

Andang menjelaskan bahwa inovasi ekonomi sirkular Kampung JEMARI memiliki potensi efisiensi ekonomi yang kuat karena mampu mengubah limbah dari satu kegiatan produksi menjadi input bagi kegiatan produksi lainnya.

Dalam teori ekonomi lingkungan, pendekatan ini merupakan penerapan prinsip circular economy, yaitu mengurangi penggunaan sumber daya baru, memperpanjang siklus pemanfaatan sumber daya, dan meminimalkan limbah yang dibuang ke lingkungan.

Andang melihat setidaknya ada empat mekanisme ekonomi yang dapat dibangun. Pertama, limbah organik rumah tangga dan sisa pertanian dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku budi daya maggot. Kedua, maggot dapat digunakan sebagai bahan pakan alternatif untuk ayam dan ikan lele.

Ketiga, lanjut Andang, sisa media budi daya maggot dan kotoran ternak dapat diolah menjadi pupuk organik setelah melalui pengolahan yang sesuai. Terakhir, pupuk organik dapat dimanfaatkan untuk mendukung kegiatan pertanian dan hidroponik.

“Dengan demikian, terjadi hubungan input-output yang saling melengkapi antarunit usaha,” ujar Andang, yang saat ini tergabung dalam Tim Uji Kelayakan Lingkungan Hidup Provinsi Jambi, Kabupaten Tanjung Jabung Barat, dan Kabupaten Tanjung Jabung Timur.

Mengapa sistem ini dapat memangkas biaya operasional? Andang menjelaskan bahwa ada tiga sumber efisiensi yang dapat dihasilkan. Pertama, pengurangan biaya pembelian pakan melalui substitusi sebagian bahan pakan komersial dengan maggot. Kedua, pengurangan biaya pupuk melalui pemanfaatan pupuk organik hasil pengolahan limbah. Ketiga, pengurangan biaya pengelolaan sampah melalui pemanfaatan limbah organik sebagai bahan baku produksi.

Namun, Andang tidak langsung menyebut sistem ini telah mencapai zero waste. Istilah yang lebih tepat pada tahap pengembangan adalah minimasi limbah melalui biokonversi dan pemanfaatan kembali sumber daya karena setiap proses produksi masih menghasilkan residu, kebutuhan energi, air, dan biaya pengolahan.

Andang merekomendasikan lima indikator untuk mengukur efektivitas program ini. Pertama, untuk pengurangan sampah, ukuran yang digunakan adalah persentase limbah organik yang berhasil dimanfaatkan.

Selanjutnya, efisiensi pakan bisa diukur dengan penurunan biaya pakan per kilogram produksi ayam atau ikan lele. Untuk efisiensi pupuk, diukur dari sejauh mana pengurangan pembelian pupuk eksternal.

Lalu, untuk produktivitas, diukur dengan output produksi dibandingkan input yang digunakan. Terakhir, efisiensi ekonomi diukur dari sejauh mana penurunan biaya produksi per unit produk.                      

Menurut pandangan Andang, inovasi ini memiliki keunggulan bukan semata-mata karena mampu menghasilkan banyak produk, melainkan karena berpotensi menurunkan ketergantungan setiap unit usaha terhadap input eksternal. Itulah nilai ekonomi sesungguhnya dari ekonomi sirkular.

Dilihat dari dampak terhadap ketahanan pangan dan kemandirian ekonomi, Andang menilai bahwa integrasi produksi sayuran, ikan, dan daging merupakan strategi diversifikasi ekonomi yang dapat memperkuat ketahanan pangan sekaligus meningkatkan sumber pendapatan masyarakat.

Dari perspektif makroekonomi, terdapat dua kontribusi penting. Pertama, memperkuat ketahanan pangan lokal.

“Integrasi hidroponik, peternakan ayam, dan perikanan lele memungkinkan masyarakat menghasilkan beberapa sumber pangan dalam satu kawasan,” ujar Andang.

Manfaatnya, antara lain, meningkatkan ketersediaan sayuran, ikan, dan daging bagi masyarakat; lalu, mengurangi sebagian ketergantungan terhadap pasokan pangan dari luar wilayah.

Manfaat lainnya adalah memberikan alternatif sumber protein hewani, memperpendek rantai distribusi pangan sehingga berpotensi menekan biaya pemasaran, dan mengurangi kerentanan masyarakat terhadap gangguan pasokan dan fluktuasi harga pangan.

Namun, masyarakat perlu membedakan antara ketahanan pangan lokal dan swasembada pangan. Keberadaan unit produksi belum otomatis menjamin kebutuhan pangan seluruh warga terpenuhi. Hal itu bergantung pada kapasitas produksi, jumlah penduduk, produktivitas, dan kontinuitas pasokan.

Kontribusi kedua adalah memperkuat ketahanan ekonomi rumah tangga. Model multiproduk mempunyai keunggulan berupa diversifikasi sumber pendapatan.

Misalnya ketika harga sayuran turun, kelompok masih memiliki sumber pendapatan dari ikan dan ayam. Ketika permintaan ikan melemah, kelompok masih dapat mengandalkan produk sayuran atau peternakan. Lalu, maggot dan pupuk organik dapat menciptakan sumber pendapatan tambahan.

Secara teori, diversifikasi usaha dapat mengurangi risiko pendapatan karena rumah tangga tidak bergantung pada satu komoditas saja.

“Saya melihat model ini berpotensi mengembangkan ekonomi masyarakat dari pola ekonomi subsisten menjadi ekonomi produktif berbasis kelompok,” ujarnya.

Menurut Andang, kekuatan utama model ini adalah penciptaan local economic resilience, yaitu kemampuan ekonomi masyarakat untuk bertahan menghadapi perubahan harga, gangguan pasokan, dan perubahan kondisi ekonomi. Akan tetapi, orientasi program harus bergerak dari sekadar menghasilkan produk menuju pembangunan usaha yang memiliki pasar dan menghasilkan keuntungan secara berkelanjutan.

Peran Pertamina dalam program ini, kata Andang, lebih strategis apabila diposisikan bukan hanya sebagai penyedia bantuan, melainkan sebagai katalisator yang membangun ekosistem ekonomi masyarakat.

Menurut Andang, ada perbedaan mendasar antara TJSL yang bersifat karitatif dan TJSL yang berorientasi pada pemberdayaan ekonomi.

TJSL karitatif biasanya berorientasi pada pemberian bantuan, sedangkan TJSL pemberdayaan berupaya membangun kemampuan masyarakat agar mampu mengelola sumber daya dan kegiatan ekonomi secara mandiri.

Dalam konteks Kampung JEMARI, Andang melihat ada empat peran strategis Pertamina. Peran tersebut masing-masing sebagai institutional entrepreneur. Pertamina berperan mempertemukan kelompok masyarakat yang sebelumnya memiliki kegiatan usaha sektoral dan mengarahkannya untuk bekerja dalam satu ekosistem ekonomi.

Hal ini penting karena persoalan pemberdayaan masyarakat sering kali bukan hanya keterbatasan modal, melainkan juga lemahnya koordinasi, kolaborasi, dan kemampuan membangun jaringan usaha.

Peran Pertamina selanjutnya adalah sebagai penyedia sumber daya dan transfer teknologi. Bantuan sarana produksi memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk memulai kegiatan usaha yang sebelumnya sulit dilakukan karena keterbatasan modal.

Sementara itu, pelatihan dan pendampingan SDM meningkatkan kemampuan masyarakat dalam teknik produksi, pengelolaan usaha, pengendalian kualitas, pengelolaan keuangan, dan pemasaran produk.

Pertamina juga berperan menghubungkan kelompok tani dengan pemerintah daerah, perguruan tinggi, penyuluh, lembaga pembiayaan, pemasok, dan calon pembeli.

Peran ini sangat penting karena keberhasilan usaha tidak hanya ditentukan oleh kemampuan memproduksi, melainkan juga kemampuan memperoleh input dan menjual hasil produksi.

Peran Pertamina lainnya adalah sebagai penggerak transformasi sosial. Ketika beberapa kelompok usaha yang berbeda mampu bekerja sama, sebenarnya sedang terjadi proses pembentukan modal sosial (social capital).

Modal sosial ini meliputi kepercayaan antaranggota kelompok, kemampuan bekerja sama, norma dan tanggung jawab bersama, jaringan kerja sama ekonomi, serta kepemimpinan dan kelembagaan masyarakat.

Dalam konteks pembangunan ekonomi lokal, modal sosial merupakan salah satu faktor penting  berfungsi untuk memperkuat keberlanjutan kegiatan ekonomi masyarakat.

Ada bukti awal yang menarik. Publikasi penelitian tentang Kampung JEMARI tahun 2025 mencatat survei terhadap 45 responden dari empat kelompok binaan dengan nilai Indeks Kepuasan Masyarakat (IKM) 3,25 dari skala 4 atau 81,25%. Hasil tersebut menunjukkan persepsi pelayanan program dalam kategori baik. Namun, angka ini merupakan indikator kepuasan, bukan ukuran langsung peningkatan pendapatan atau kemandirian ekonomi.

Menurut Andang, nilai strategis Pertamina justru terletak pada kemampuannya mengubah bantuan yang bersifat individual dan sektoral menjadi investasi sosial yang menghasilkan keterhubungan ekonomi. Perusahaan tidak hanya membangun fasilitas produksi, melainkan berpotensi membangun kelembagaan dan kapasitas ekonomi masyarakat.

Andang menilai bahwa Kampung JEMARI memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi model percontohan Provinsi Jambi, bahkan untuk percontohan nasional. Namun, replikasi harus dilakukan melalui pendekatan adaptif, bukan sekadar menyalin fasilitas dan aktivitas usaha di lokasi lain.

Andang berpendapat bahwa model ini memiliki tiga keunggulan untuk direplikasi. Pertama, modelnya integratif.

Program tidak hanya berfokus pada satu komoditas atau satu kelompok masyarakat. Terdapat peluang membangun keterkaitan antara pertanian, peternakan, perikanan, dan pengelolaan limbah.

Kedua, modelnya partisipatif. Masyarakat dilibatkan dalam kelompok-kelompok usaha sehingga mereka bukan hanya penerima bantuan, melainkan juga pelaku kegiatan ekonomi.

Ketiga, modelnya memiliki nilai ekonomi dan lingkungan sekaligus. Program berpotensi menghasilkan pendapatan masyarakat, menyediakan pangan lokal, dan mengurangi limbah organik.

Namun, Andang menyarankan agar sebelum direplikasi di tempat lain, terdapat lima prasyarat yang harus dipenuhi. Pertama, kelayakan ekonomi, yaitu usaha menghasilkan keuntungan dan arus kas positif.

Kedua, dari sisi kelembagaan, kelompok harus memilik tata kelola, pembagian tugas, dan kepemimpinan yang baik.

Ketiga, harus terapat kepastian permintaan dan jaringan pemasaran. “Ke empat, teknologi harus sesuai dengan karakteristik wilayah dan kemampuan masyarakat,” ujar Andang.

Syarat terakhir yang harus dipenuhi adalah kemandirian; kelompok mampu beroperasi tanpa ketergantungan permanen pada bantuan perusahaan.

Andang menyarankan replikasi dilakukan dalam tiga tahap. Tahap pertama, melakukan evaluasi menyeluruh terhadap kinerja ekonomi, sosial, dan lingkungan, serta mengukur biaya produksi, pendapatan kelompok, pengurangan limbah, produktivitas, dan kemampuan kelembagaan.

Tahap kedua, menyusun panduan operasional, standar teknis, model bisnis, mekanisme pembinaan, serta pola kemitraan yang dapat disesuaikan dengan kondisi wilayah lain.

Tahap ketiga, mengembangkan model melalui kolaborasi Pertamina, pemerintah daerah, perguruan tinggi, kelompok masyarakat, dan mitra pasar.

Satu hal yang sangat penting, jangan mengharuskan setiap wilayah mengembangkan hidroponik, maggot, ayam, dan lele sekaligus. Komposisi kegiatan harus disesuaikan dengan potensi bahan baku, kondisi lingkungan, keterampilan masyarakat, kebutuhan pasar, dan daya dukung wilayah.

Menurut Andang, Kampung JEMARI layak dipertimbangkan sebagai kandidat pilot project TJSL berbasis ekonomi sirkular dan pemberdayaan ekonomi masyarakat. Namun, status sebagai model provinsi atau nasional sebaiknya diberikan setelah tersedia bukti keberhasilan ekonomi, sosial, lingkungan, dan kelembagaan dalam jangka menengah.

“Jika saya harus merangkum sejumlah aspek tersebut dalam satu pandangan, saya akan menekankan bahwa keberhasilan utama Kampung JEMARI bukan terletak pada berapa banyak fasilitas hidroponik, kolam ikan, kandang ayam, atau tempat budi daya maggot yang dibangun. Keberhasilan sesungguhnya adalah sejauh mana fasilitas tersebut mampu membentuk ekosistem ekonomi masyarakat yang produktif, saling terintegrasi, menghasilkan pendapatan, dan mampu bertahan tanpa ketergantungan pada bantuan perusahaan,” tandasnya.

Andang merekomendasikan agar Pertamina mengembangkan pengukuran dampak program menggunakan pendekatan Social Return on Investment (SROI), yaitu membandingkan nilai investasi sosial yang dikeluarkan perusahaan dan manfaat ekonomi, sosial, dan lingkungan yang dihasilkan masyarakat. (*)





BERITA BERIKUTNYA
loading...