ONLINEJAMBI.COM - Tangan yang tak lagi muda itu bergerak dengan telaten, memindahkan satu per satu daun pakis liar ke atas bentangan kain putih.
Di sela-sela liukan daun tersebut, ia menyelipkan bunga zinia anggun, menciptakan perpaduan warna alami yang memikat mata. Setiap helai bunga diatur sedemikian rupa dengan penuh kehati-hatian, memastikan ruang kosong terisi dengan sempurna.
Lewat gerakan lambat yang lahir dari ketelatenan sunyi itu, sebuah motif alam yang cantik tercipta, mengubah selembar kain polos menjadi karya ecoprint yang mempesona.
Batik ecoprint ini adalah hasil ketelatenan Maisarah. Masyarakat sekitar memanggilnya Nyai, sebuah panggilan untuk orang yang usianya sudah uzur. Ya, tahun ini Maisarah berusia 70 tahun, usia yang benar-benar tidak muda lagi.
Namun, dari tangan Maisarah yang sudah dipenuhi keriput, batik ecoprint yang dihasilkan begitu memesona.
“Rasanya senang dan bahagia kami kembali bermanfaat di usia senja. Tidak menyangka juga (bisa membuat batik ini),” ujar Maisarah. Nenek sebelas cucu ini tersenyum saat pertama kali berhasil menghasilkan karya batik ecoprint.
Awalnya, saat mengikuti pelatihan pembuatan batik ecoprint, kata Maisarah, dia sedikit ragu apakah mampu atau tidak mengikuti pelatihan. Ternyata, hasilnya malah bagus.
Saat ini, aktivitas yang dilakukan Maisarah dengan lansia lainnya justru membuat batinnya lebih bahagia. Kebugaran fisik juga menjadi membaik.
“Saya merasa tidak berat membuat batik ecoprint, malah senang karena sekarang ada wadah, ada kurikulum, dan semua tertata dengan baik,” ujar Duta Lansia Kota Karang tahun 2025.
Hal yang sama dirasakan oleh Juliani. Nenek berusia 65 tahun ini merasa gembira dan senang dengan aktivitas batik ecoprint yang dijalaninya sejak bergabung di Sekolah Lansia.
Nawala, yang baru bergabung pada tahun 2026, juga merasa senang dan bahagia. Apalagi, sebelumnya dia sama sekali tidak tahu tentang batik ecoprint.
“Tahun 2025 belum bisa ikut gabung karena masih sibuk momong cucu,” ujar nenek berusia 60 tahun.
Baik Maisarah, Juliani, maupun Nawala, saat ini mereka tinggal dengan anak bungsu masing-masing, bersama menantu dan cucu. Jika tidak ada aktivitas yang berhubungan dengan Sekolah Lansia dan pembuatan batik ecoprint, mereka mengisi hari dengan berkebun sayur di tanah milik sendiri.
Siti Aisyah, Kepala Sekolah Lansia Tangguh, mengatakan bahwa pembuatan batik ecoprint awalnya hanyalah bagian dari sekian banyak pembelajaran di Sekolah Lansia Tangguh yang berlokasi di Desa Kota Karang, Kecamatan Kumpeh Ulu, Kabupaten Muaro Jambi.
Mengapa akhirnya meneruskan batik ecoprint? Aisyah, yang juga Koordinator Senja Karsa (Semangat Lanjut Usia untuk Berkarya, Sehat, dan Sejahtera), mengatakan bahwa pembuatan batik biasa sudah banyak di Provinsi Jambi, termasuk di Kecamatan Kumpeh Ulu, Kabupaten Muaro Jambi.
“Makanya kita pilih batik ecoprint,” ujarnya.
Alasan lain memilih batik ecoprint, kata Aisyah, adalah karena bahan alami, baik untuk motif maupun pewarna, lebih ramah untuk lansia dan tidak mengganggu kesehatan.
Awal pembelajaran pembuatan batik ecoprint diikuti oleh 50 peserta dari Sekolah Lansia. Setelah melalui proses, akhirnya hanya dua orang lansia yang dinyatakan punya kemampuan untuk terus melanjutkan program pembuatan batik ecoprint.
“Nyai Maisarah dan Juliani yang terpilih. Mereka punya kesungguhan, ketelitian, dan ketekunan. Kerja sama mereka dalam tim juga bagus,” ujar Aisyah.
Lalu, pada tahun ajaran 2026, masuk satu orang lagi, yakni Nawala. Nawala juga dianggap memiliki ketekunan, ketelitian, dan bisa membangun kerjasama.
Aktivitas pembuatan batik ecoprint tidak dilakukan setiap hari, melainkan tergantung kebutuhan. Jadi, hal itu tidak memengaruhi aktivitas rutin para lansia.
Hingga saat ini, sudah dihasilkan 14 lembar kain batik ecoprint dan 7 tas dengan dasar kain katun.
“Semuanya belum kami jual karena hasilnya belum begitu sempurna. Kami masih dalam tahap pembelajaran,” ujar Aisyah.
Saat ini, Aisyah dan tim terus berupaya mencari keunikan tersendiri dari batik ecoprint yang akan mereka hasilkan.
“Mencari ciri khas daerah sendiri untuk bahan utama motif. Dulu menggunakan daun duku, sekarang daun pakis liar. Daun matoa juga bagus karena lebih kokoh. Begitu juga dengan daun bengkal,” ujarnya.
Rencana ke depan, kata Aisyah, mereka akan membuat kebun sendiri di tanah desa untuk bahan baku pembuatan batik ecoprint.
Harapannya kepada Pertamina EP Jambi adalah dapat mendatangkan narasumber untuk berbagi ilmu. Selain itu, hasil karya lansia akan diikutkan pada berbagai pameran dan menjadikan produk-produk tersebut sebagai isi goody bag di setiap acara Pertamina.
Aisyah mengatakan bahwa kehadiran perusahaan dirasakan langsung manfaatnya oleh pemerintah desa dan para kader pengelola program dalam melahirkan kemandirian lansia.
Saat berkumpul, hal yang dirasakan oleh para lansia adalah meningkatnya kesehatan mental dan munculnya hormon kebahagiaan.
Sementara itu, tujuan jangka panjangnya adalah dari segi ekonomi yang dapat meningkatkan martabat lansia karena memiliki pendapatan sendiri.
"Selaras dengan filosofi Sekolah Lansia untuk mewujudkan lansia yang bermartabat, tangguh, sehat, dan aktif, kami berharap hasil batik ecoprint ini ke depan menjadi produk unggulan Desa Kota Karang yang khas diproduksi oleh para lansia sebagai wujud keberhasilan pembinaan kami," tandas Aisyah.
Sementara itu, Pj Kepala Desa Kota Karang, Suandi, mengatakan bahwa Sekolah Lansia dan program Senja Karsa sangat membantu dalam mengurangi beban sosial di masyarakat.
Pemerintah desa, kata Suandi, selalu mendukung program ini. Meski anggaran terbatas, program ini tetap akan dianggarkan.
Suandi menegaskan kembali bahwa program ini sangat bagus. Program ini tidak hanya sebatas mengejar keuntungan dari sisi ekonomi, tetapi juga menjadi ajang silaturahmi, menjaga kesehatan para lansia, termasuk wadah kegiatan keagamaan.
”Harapan saya ke depan, kegiatan ini bisa berkembang. Tidak hanya memberi bimbingan dan modal, tetapi lebih dari itu,” tandasnya.
Pertamina EP Jambi Berdayakan Lansia Lewat Batik Ecoprint
Pertamina EP Jambi menginisiasi program pemberdayaan ekonomi berkelanjutan berbasis lingkungan (green economy) bagi kelompok lanjut usia (lansia) di Desa Kota Karang, Kecamatan Kumpeh Ulu, Kabupaten Muaro Jambi.
Sebagai wilayah ring 1 operasional Pertamina EP Jambi, desa ini menghadapi tantangan demografis yang cukup signifikan terkait dengan penurunan kemampuan fungsional, keterbatasan finansial, hingga minimnya akses ruang produktif bagi kelompok lansia. Kondisi ini rentan menimbulkan stereotipe bahwa lansia merupakan kelompok dengan ketergantungan sosial yang tinggi.
Melalui program Community Involvement & Development (CID) bertajuk Senja Karsa (Semangat Lanjut Usia untuk Berkarya, Sehat, dan Sejahtera) yang diinisiasi sejak 2025, Pertamina EP Jambi berupaya mengubah tantangan tersebut menjadi peluang pemberdayaan produktif bagi para lansia.
Setelah sukses mengintervensi aspek kesehatan lewat dukungan sarana Sekolah Lansia Tangguh (Selantang), Pertamina EP Jambi melakukan inovasi di sektor ekonomi kreatif dengan meluncurkan subprogram ekonomi bernama Lansiapreneur.
Lewat wadah ini, para lansia diberikan pelatihan dan pendampingan keterampilan khusus untuk memproduksi batik ecoprint, yaitu teknik membatik ramah lingkungan menggunakan replika pigmen warna dari daun dan tanaman asli.
Selain berfokus pada kemandirian ekonomi melalui ecoprint, program Senja Karsa ini juga secara terintegrasi memperkuat Sekolah Lansia Tangguh, kelompok Bina Keluarga Lansia (BKL) Kamboja, dan memfasilitasi pemeriksaan kesehatan jasmani secara berkala.
Senior Officer Community Involvement & Development Pertamina Hulu Rokan Zona 1, Winda Damelia, mengatakan bahwa keputusan mengembangkan metode batik ecoprint didasarkan pada hasil monitoring dan evaluasi mendalam yang menekankan pentingnya kemandirian program pascapendampingan.
Selain proses produksinya yang aman karena menyesuaikan dengan kapabilitas fisik lansia, kerajinan kontemporer ini memanfaatkan pewarna dan cetakan alami dari tanaman lokal sehingga menjadikannya produk bernilai jual tinggi dengan histori produk yang unik.
"Pembuatan batik ecoprint memadukan konsep terapi kesehatan kognitif dengan pemberdayaan ekonomi kreatif hijau. Kami berharap program ini tidak hanya meningkatkan kualitas hidup para lansia secara mandiri, tetapi juga melahirkan produk unggulan lokal berbasis keberlanjutan lingkungan yang mampu bersaing di pasar yang lebih luas," jelasnya.
Winda menjelaskan bahwa semangat energizing innovation pada program Senja Karsa dapat dimaknai sebagai sebuah proses untuk melihat potensi yang selama ini mungkin luput dari pandangan masyarakat umum.
“Kelompok lansia erat dengan sebuah kondisi yang rentan dan memiliki keterbatasan,” ujarnya.
Pertamina EP Jambi Fiel, kata Winda, mencoba memperluas sudut pandang bahwa lansia dapat memiliki keterampilan yang sejauh ini belum terlalu umum untuk dilakukan.
Intervensi dilakukan dengan melibatkan lansia. Hal ini tidak hanya berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan sosial (dalam aspek kesehatan), tetapi juga adanya kesempatan untuk berkarya dan melakukan kegiatan produktif.
Terkait dengan keberlanjutan program dan pemasaran produk ke depan, Winda menjelaskan bahwa pada tahap awal, upaya pengenalan dan pemasaran akan dimulai dari pihak perusahaan dan pemerintah desa untuk bersama-sama menggunakan produk.
“Dalam prosesnya, akan dilakukan evaluasi secara terus-menerus dan diupayakan terdapat inovasi untuk meningkatkan kualitas produk agar sesuai dengan minat konsumen. Hal ini bisa dilakukan melalui kolaborasi dengan pihak-pihak yang ahli dalam pengembangan ecoprint maupun dalam bidang fashion,” ujarnya.
Urgensi Menjaga Kesehatan Mental dan Otonomi Lansia
Yudhi Adiarta, S.Psi., M.Psi., Psikolog, mengatakan bahwa dari perspektif psikologi, aktivitas kreatif seperti membuat batik ecoprint dapat memberikan manfaat bagi kesejahteraan psikologis lansia karena melibatkan beberapa aspek sekaligus, yaitu aktivitas motorik, stimulasi kognitif, ekspresi diri, dan pengalaman emosional yang positif.
“Ketika lansia mengikuti proses pembuatan ecoprint, mereka perlu mengoordinasikan gerakan tangan, mengenali bentuk dan warna, mengikuti tahapan pengerjaan, berkonsentrasi, serta mengambil keputusan. Aktivitas tersebut memberikan stimulasi terhadap kemampuan kognitif seperti perhatian, memori, dan fungsi eksekutif,” ujarnya.
Selain itu, kata Yudhi, proses menghasilkan sebuah karya dapat memberikan rasa senang, kepuasan, dan pencapaian diri. Namun, perlu dipahami bahwa stimulasi kognitif tidak secara otomatis memperlambat atau mencegah demensia.
“Kita perlu membedakan antara aktivitas yang membantu menjaga keterlibatan kognitif dan klaim bahwa suatu program dapat mencegah penyakit tertentu. Manfaatnya akan lebih optimal jika kegiatan kreatif dilakukan secara rutin dan disertai aktivitas fisik sesuai kemampuan, interaksi sosial, pola hidup sehat, serta pengelolaan kondisi medis,” ujar dosen tetap Psikologi Institut Islam Muaro Jambi (INISMA Jambi) ini.
Jadi, kata Yudhi, nilai program seperti Senja Karsa bukan hanya terletak pada produk yang dihasilkan, melainkan juga pada proses belajar, berkarya, dan tetap aktif secara mental.
Yudhi menjelaskan bahwa perasaan diri masih bermanfaat merupakan salah satu aspek penting dalam menjaga harga diri, makna hidup, dan kesejahteraan psikologis lansia. Memasuki usia lanjut, seseorang dapat mengalami berbagai perubahan, seperti pensiun, berkurangnya peran dalam keluarga, perubahan kondisi fisik, atau semakin terbatasnya aktivitas sehari-hari.
“Perubahan ini terkadang membuat lansia merasa kehilangan peran dan tidak lagi dibutuhkan,” ujarnya.
Ketika lansia diberikan kesempatan untuk berkarya, menghasilkan produk, berbagi pengalaman, atau berkontribusi bagi lingkungan, mereka memperoleh pengalaman bahwa dirinya masih memiliki kemampuan dan nilai.
Hal ini dapat memperkuat harga diri, efikasi diri atau keyakinan terhadap kemampuan sendiri, serta perasaan memiliki tujuan hidup.
Dengan demikian, merasa bermanfaat bukan sekadar persoalan menghasilkan uang atau produktivitas ekonomi. Ada kebutuhan psikologis yang lebih mendasar, yaitu merasa dihargai, diakui, dan tetap menjadi bagian penting dari kehidupan sosial.
“Pengalaman tersebut dapat mendukung kesejahteraan emosional dan membantu lansia menjalani masa tua dengan lebih bermakna,” ujarnya.
Program pemberdayaan mengubah konsep diri lansia dari tidak berdaya menjadi berdaya. Konsep diri ini terbentuk melalui pengalaman seseorang dalam memahami kemampuan, nilai, dan perannya di dalam kehidupan.
Ketika masyarakat terus-menerus memandang lansia sebagai kelompok yang lemah, pasif, dan bergantung pada orang lain, sebagian lansia dapat menginternalisasi pandangan tersebut sehingga kepercayaan terhadap kemampuannya sendiri ikut menurun.
Program pemberdayaan memberikan pengalaman yang berbeda. Lansia tidak hanya ditempatkan sebagai penerima bantuan, melainkan juga sebagai peserta aktif yang belajar, mengambil keputusan, menghasilkan karya, dan berkontribusi.
“Ketika mereka berhasil menguasai keterampilan baru, pengalaman keberhasilan tersebut menjadi bukti nyata bahwa mereka masih mampu berkembang,” ujarnya.
Dalam psikologi, proses ini berkaitan dengan penguatan efikasi diri dan terbentuknya konsep diri yang lebih positif. Perubahan tersebut tidak terjadi hanya melalui motivasi atau kata-kata penyemangat, melainkan melalui pengalaman langsung, dukungan sosial, dan kesempatan yang nyata untuk menunjukkan kemampuan.
Oleh karena itu, Sekolah Lansia idealnya tidak hanya mengajarkan keterampilan, tetapi juga menciptakan lingkungan yang menghargai pengalaman hidup lansia, memberikan ruang untuk berpendapat, dan melibatkan mereka dalam pengambilan keputusan.
“Lansia perlu dipandang sebagai individu yang tetap memiliki potensi, bukan semata-mata sebagai kelompok yang membutuhkan pertolongan,” jelas Yudhi.
Pelatihan keterampilan baru dapat mendukung resiliensi psikologis melalui beberapa mekanisme. Pertama, lansia memperoleh pengalaman bahwa dirinya masih mampu mempelajari sesuatu. Kedua, keberhasilan menyelesaikan tugas dapat memperkuat keyakinan untuk menghadapi tantangan lain. Ketiga, kegiatan kelompok menyediakan dukungan sosial dan kesempatan bertukar pengalaman dengan orang yang menghadapi perubahan hidup serupa.
Resiliensi psikologis adalah kemampuan seseorang untuk beradaptasi dan bangkit ketika menghadapi kesulitan atau perubahan dalam hidup.
Pada lansia, resiliensi menjadi penting karena masa tua dapat disertai tantangan berupa penurunan kemampuan fisik, kehilangan orang terdekat, perubahan kondisi ekonomi, maupun berkurangnya kemandirian.
Jika keterampilan tersebut dapat dikembangkan menjadi kegiatan produktif, seperti usaha kerajinan, manfaatnya juga dapat mencakup bertambahnya peluang memperoleh penghasilan dan meningkatnya rasa mandiri.
Meskipun demikian, hasil ekonomi tidak dapat dijamin karena dipengaruhi oleh akses pasar, modal, kondisi kesehatan, dan dukungan lingkungan.
Hal terpenting adalah lansia memiliki kesempatan untuk tetap belajar dan menentukan pilihan. Resiliensi bukan berarti seseorang harus selalu kuat atau mampu mengatasi semua masalah sendirian, melainkan kemampuan beradaptasi dengan dukungan yang memadai dan tetap memiliki harapan di tengah keterbatasan.
Jauhi Sikap yang Terlalu Mengontrol Lansia
Sikap yang paling dibutuhkan keluarga agar pendampingan di rumah selaras dengan program Sekolah Lansia adalah menghargai martabat dan otonomi lansia, disertai empati, kesabaran, serta komunikasi yang terbuka.
Keluarga perlu memahami bahwa bertambahnya usia tidak berarti seseorang kehilangan seluruh kemampuan untuk berpikir, mengambil keputusan, belajar, atau menentukan keinginannya sendiri.
Dalam praktiknya, keluarga perlu menghindari sikap yang terlalu mengontrol atau menganggap lansia tidak mampu melakukan sesuatu hanya karena usianya. Selama kondisi kesehatan dan kemampuannya memungkinkan, lansia sebaiknya tetap diberikan kesempatan untuk melakukan aktivitas secara mandiri, menyampaikan pendapat, dan terlibat dalam keputusan keluarga.
Keluarga juga perlu memberikan dukungan tanpa merendahkan. Misalnya, ketika lansia mempelajari keterampilan baru, fokuslah pada proses dan usaha yang dilakukan, bukan hanya pada hasil akhirnya. Apresiasi yang tulus dapat memperkuat kepercayaan diri, sedangkan kritik berlebihan atau perbandingan dengan orang lain dapat membuat lansia merasa tidak mampu.
Di sisi lain, menghormati kemandirian bukan berarti mengabaikan kebutuhan pendampingan. Keluarga tetap perlu memperhatikan kondisi fisik, kesehatan kognitif, keamanan, dan kebutuhan emosional lansia. Prinsipnya adalah membantu sesuai kebutuhan tanpa mengambil alih seluruh peran yang masih dapat dijalankan oleh lansia.
Kesepian bukan sekadar kondisi tinggal sendiri, melainkan pengalaman subyektif ketika hubungan sosial yang dimiliki seseorang dirasakan tidak sesuai dengan hubungan yang dibutuhkannya. Interaksi sosial merupakan salah satu faktor penting dalam menjaga kesehatan mental lansia. Seseorang bisa tinggal bersama keluarga tetapi tetap merasa kesepian, sementara lansia yang tinggal sendiri belum tentu mengalami kesepian jika memiliki hubungan sosial yang bermakna.
Kegiatan kelompok, seperti Sekolah Lansia, dapat menjadi ruang untuk membangun hubungan, berbagi pengalaman, memperoleh dukungan emosional, dan merasakan kebersamaan. Pertemuan rutin juga memberikan struktur aktivitas sehari-hari dan alasan untuk tetap terlibat dalam kehidupan sosial.
Dari perspektif psikologi sosial, manfaat tersebut berkaitan dengan rasa memiliki, dukungan sosial, dan identitas kelompok. Ketika lansia merasa diterima dan memiliki teman untuk berbagi, mereka tidak harus menghadapi persoalan hidup sendirian. “Hal ini berpotensi mengurangi kesepian dan mendukung pencegahan masalah kesehatan mental,” ujarnya.
Namun, efektivitasnya bergantung pada kualitas interaksi, konsistensi kegiatan, rasa aman, dan keterlibatan peserta. Program kelompok bukan pengganti penanganan profesional bagi lansia yang mengalami depresi atau gangguan kecemasan. Jika gejala menetap atau mengganggu fungsi sehari-hari, pemeriksaan dan bantuan profesional tetap diperlukan.
Dari perspektif psikologi komunitas, lansia merupakan bagian dari modal sosial masyarakat. Mereka memiliki pengalaman hidup, pengetahuan lokal, nilai budaya, keterampilan, dan jaringan sosial yang dapat diwariskan kepada generasi berikutnya.
Ketika lansia tetap aktif dan memperoleh ruang untuk berkontribusi, desa berpotensi mendapatkan manfaat berupa hubungan antargenerasi yang lebih kuat, terpeliharanya pengetahuan lokal, meningkatnya partisipasi masyarakat, serta tumbuhnya solidaritas sosial. Lansia dapat berperan sebagai mentor, perajin, pendidik informal, atau sumber pengetahuan mengenai sejarah dan budaya setempat.
Program pemberdayaan juga dapat membantu mengubah cara pandang masyarakat terhadap proses menua. Lansia tidak lagi hanya dipandang dari kebutuhan bantuan yang mereka miliki, melainkan juga dari potensi dan kontribusi yang dapat diberikan.
Dalam jangka panjang, lingkungan yang inklusif dapat mendukung kualitas hidup lansia sekaligus memperkuat kohesi sosial desa. Meskipun demikian, lansia tidak seharusnya dinilai berdasarkan apakah mereka menjadi beban atau tidak.
Mereka tetap berhak memperoleh perawatan dan dukungan, termasuk ketika kondisi kesehatan membuat mereka tidak mampu beraktivitas secara produktif. Ukuran keberhasilan sebuah desa adalah kemampuannya menjaga martabat dan kesejahteraan semua warganya, termasuk generasi tertua.
TJSL Berbasis Pemberdayaan Menawarkan Pendekatan yang Lebih Berkelanjutan
Bantuan tanggung jawab sosial dan lingkungan (TJSL) berupa materi tetap penting, terutama ketika masyarakat menghadapi kebutuhan mendesak. Namun, jika program sosial hanya berorientasi pada pemberian bantuan, masyarakat berisiko ditempatkan terus-menerus sebagai penerima tanpa memperoleh kesempatan untuk mengembangkan kapasitas dan mengambil peran dalam perubahan yang terjadi.
TJSL berbasis pemberdayaan menawarkan pendekatan yang lebih berkelanjutan karena tidak hanya menjawab kebutuhan saat ini, melainkan juga berupaya meningkatkan kemampuan, kemandirian, dan partisipasi masyarakat.
Dalam konteks Senja Karsa, pelatihan keterampilan dapat memberikan kesempatan kepada lansia untuk belajar, membangun jejaring sosial, menghasilkan karya, dan mengembangkan potensi ekonomi.
Secara psikologis, pendekatan ini mendukung efikasi diri, otonomi, harga diri, dan rasa memiliki terhadap program. Masyarakat tidak sekadar menerima manfaat, melainkan turut menjadi pelaku yang menentukan arah perkembangannya.
“Pengalaman tersebut dapat memperkuat keyakinan bahwa perubahan juga dapat diupayakan melalui kemampuan dan kerja sama komunitas sendiri,” ujarnya.
Meskipun demikian, pemberdayaan tidak harus dipertentangkan dengan bantuan langsung. Keduanya dapat saling melengkapi. Bantuan materi diperlukan ketika ada kebutuhan dasar yang belum terpenuhi, sedangkan pemberdayaan membantu memperluas kapasitas masyarakat dalam jangka panjang.
Dengan demikian, TJSL yang ideal bukan hanya mengukur berapa banyak bantuan yang disalurkan atau berapa banyak produk yang dihasilkan, melainkan juga menilai perubahan pada kualitas hidup, rasa percaya diri, partisipasi, hubungan sosial, dan keberlanjutan manfaat bagi masyarakat.
Sebagai kesimpulan, kata Yudhi, program Senja Karsa memiliki nilai penting karena memandang lansia sebagai individu yang tetap memiliki potensi untuk belajar, berkarya, menjalin hubungan sosial, dan menjalani hidup yang bermakna.
Pemberdayaan lansia bukan semata-mata upaya membuat mereka tetap produktif secara ekonomi, melainkan juga memberikan ruang untuk mempertahankan martabat, otonomi, dan kualitas hidup.
Keberhasilan program semacam ini idealnya dilihat dari perubahan yang dirasakan lansia, mulai dari meningkatnya kepercayaan diri, terbentuknya hubungan sosial yang lebih baik, hingga terbukanya kesempatan untuk berpartisipasi dalam kehidupan komunitas.
“Dengan dukungan keluarga, masyarakat, pemerintah, dan dunia usaha, masa tua dapat menjadi tahap kehidupan yang tetap bermakna, bukan sekadar fase menunggu berakhirnya produktivitas,” tandasnya. (*)
Tim Futsal Putri SMAN 1 Kepahiang Buktikan Semangat Juang di AXIS Nation Cup 2026
Hari Sumpah Pemuda, Bank Jambi Salurkan Bantuan bagi Siswa SMK
Bank Jambi Raih 2 Penghargaan dalam Jambi Financial Fest OJK Provinsi Jambi Tahun 2026
Gelar Jambi Financial Fest, OJK Jambi Dorong Peningkatan Pemahaman dan Perluasan Akses Keuangan
Ragam Ilustrasi Grand Filano Hybrid Tawarkan Inspirasi Anti-Mainstream
OJK Perkuat Kebijakan Berbasis Riset Dorong Pertumbuhan Ekonomi Nasional
Satgas PASTI Tindak Aktivitas Keuangan Ilegal, Penipuan Transaksi Keuangan, dan Pergadaian Ilegal