RISE TO IPO 2026, Perluas Akses Permodalan UMKM Melalui Pasar Modal Indonesia

Jumat, 23 Oktober 2026

(istimewa/onlinejambi.com)

ONLINEJAMBI.COM - Bagi banyak perusahaan, pasar modal masih kerap dipersepsikan sebagai pilihan pendanaan yang hanya dapat diakses oleh perusahaan besar dan telah mapan.

Padahal, perjalanan menuju perusahaan terbuka tidak harus dimulai ketika perusahaan sudah sepenuhnya siap melakukan Initial Public Offering (IPO). Persiapan menuju IPO justru dapat dilakukan sejak perusahaan berada pada tahap awal pengembangan bisnis.

Sebagai upaya memperluas akses pembiayaan dan memperkuat daya saing usaha menengah nasional, PT Bursa Efek Indonesia (BEI) berkolaborasi dengan Kementerian Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) menyelenggarakan rangkaian seminar dan coaching clinic RISE TO IPO 2026.

Mengusung tema “Empowering Medium Enterprises to IPO”, program ini dirancang untuk memperkenalkan pasar modal kepada pelaku usaha menengah sekaligus membantu pelaku usaha memahami berbagai langkah yang dapat dipersiapkan untuk membawa bisnisnya tumbuh lebih besar dan lebih berkelanjutan.

Melalui RISE TO IPO, pelaku usaha tidak hanya memperoleh pemahaman mengenai mekanisme penghimpunan dana melalui pasar modal, tetapi juga dapat mengidentifikasi posisi bisnis saat ini, aspek yang perlu diperkuat, serta langkah yang dilakukan untuk dapat berkembang menjadi perusahaan terbuka.

Dengan semakin beragamnya pilihan sumber pendanaan, diharapkan usaha menengah dapat mempercepat ekspansi bisnis, meningkatkan kapasitas usaha, serta memperkuat kontribusinya terhadap pertumbuhan ekonomi nasional.

Mengikuti RISE TO IPO bukan berarti perusahaan harus sudah siap untuk IPO. Sebaliknya, program ini menjadi kesempatan bagi perusahaan untuk mengetahui di mana posisi bisnisnya saat ini, apa yang masih perlu diperkuat, dan langkah apa yang dapat dilakukan untuk bertumbuh menuju perusahaan terbuka di masa depan.

Tahun ini, RISE TO IPO 2026 telah dimulai di Surabaya pada 18 Juni 2026 dengan melibatkan 50 perusahaan. Kegiatan kemudian berlanjut di Makassar pada 16 Juli 2026 yang diikuti oleh 45 perusahaan, dan ditutup di Bandung pada 31 Agustus 2026 dengan partisipasi 58 perusahaan. Secara keseluruhan, program ini berhasil menjangkau 153 perusahaan usaha menengah dari berbagai sektor usaha di Indonesia.

Setelah mengikuti rangkaian kegiatan tersebut, peserta berkesempatan untuk mengikuti intensive coaching clinic sebagai bagian dari rangkaian Program RISE TO IPO dan mendapatkan pendampingan dari lembaga profesi penunjang pasar modal secara eksklusif.

Pendampingan ini menjadi bagian penting untuk membantu perusahaan menerjemahkan pemahaman yang diperoleh selama program ke dalam langkah nyata di perusahaan.

Direktur Penilaian Perusahaan BEI, Saidu Solihin, menyampaikan bahwa salah satu tantangan terbesar dalam memperkenalkan IPO kepada pelaku usaha menengah adalah masih adanya anggapan bahwa pasar modal hanya diperuntukkan bagi perusahaan-perusahaan besar yang telah mapan.

Menurutnya, paradigma tersebut perlu diubah karena proses menuju IPO justru dimulai jauh sebelum perusahaan benar-benar siap untuk melantai di bursa.

”BEI tidak ingin hanya berinteraksi dengan perusahaan ketika seluruh persyaratan IPO telah terpenuhi. Sebaliknya, BEI ingin hadir sejak tahap awal untuk membantu perusahaan memahami berbagai aspek yang perlu dipersiapkan, mulai dari penguatan tata kelola perusahaan, pembenahan struktur organisasi dan keuangan, pemahaman terhadap ekspektasi investor, hingga penyusunan peta jalan (roadmap) menuju perusahaan terbuka. Oleh karena itu, fokus utama yang ingin dibangun bukanlah menilai apakah suatu perusahaan sudah siap IPO, melainkan membantu perusahaan mengidentifikasi langkah-langkah yang perlu dilakukan agar dapat tumbuh secara berkelanjutan dan siap memanfaatkan pasar modal sebagai sarana pendanaan di masa depan. Melalui program ini, diharapkan perusahaan memiliki persiapan yang lebih matang untuk go public dan menjadi perusahaan tercatat yang berkualitas, sehingga perusahaan mampu naik kelas menjadi national champion atau bahkan global player,” ujar Saidu.

Semangat tersebut sejalan dengan tujuan utama RISE TO IPO, yaitu menjadikan program ini bukan sekadar sarana edukasi, melainkan pintu masuk menuju pembinaan yang lebih komprehensif.

Peserta diperkenalkan pada berbagai aspek penting yang menjadi fondasi perusahaan terbuka, antara lain regulasi pasar modal, tata kelola perusahaan, kesiapan keuangan, aspek hukum, strategi penawaran saham, serta kebutuhan dan ekspektasi investor.

Perusahaan yang telah mengikuti rangkaian program RISE to IPO dan menunjukkan tingkat kesiapan yang memadai, proses pembinaan akan diarahkan untuk mengikuti IDX Incubator 2027, yang rencananya akan kembali dibuka pada awal tahun mendatang untuk umum.

Program IDX Incubator merupakan fasilitas pendampingan secara intensif yang diselenggarakan BEI untuk membantu perusahaan mempersiapkan IPO secara terstruktur dan berkesinambungan melalui kombinasi pelatihan, mentoring, serta penguatan jejaring dengan berbagai pemangku kepentingan di ekosistem pasar modal.

IDX Incubator bersifat probono (free of charge) dan ditujukan bagi perusahaan yang memiliki potensi pertumbuhan serta rencana untuk melakukan IPO dalam tiga tahun ke depan dengan program ”Road to IPO”.

Perusahaan binaan memperoleh akses terhadap pendampingan langsung dari berbagai profesional pasar modal sehingga dapat memahami tahapan transformasi yang diperlukan sebelum memasuki pasar modal.

Kepala Divisi Pengembangan Perusahaan Tercatat BEI Listyorini Dian Pratiwi, menegaskan bahwa IPO bukanlah proses yang dapat dicapai secara instan, melainkan perjalanan transformasi bisnis yang membutuhkan persiapan matang dan komitmen jangka panjang.

“IPO bukan sekadar aksi korporasi untuk menghimpun dana, tetapi proses transformasi bisnis menjadi institusi yang lebih transparan, profesional, dan berkelanjutan. Melalui berbagai program seperti RISE to IPO dan IDX Incubator, kami ingin membantu perusahaan mempersiapkan fondasi tersebut secara bertahap dan terstruktur. Sehingga ketika memutuskan untuk IPO, perusahaan sudah siap baik dari sisi tata kelola, struktur permodalan, maupun strategi jangka panjangnya,” ujarnya.

Melalui kolaborasi antara Kementerian UMKM dan BEI, RISE TO IPO diharapkan dapat menjadi katalis bagi lahirnya lebih banyak perusahaan menengah Indonesia yang mampu naik kelas, memperkuat tata kelola usaha, dan memanfaatkan pasar modal sebagai sumber pembiayaan jangka panjang.

Dengan fondasi bisnis yang semakin kuat dan persiapan yang lebih matang, perusahaan nasional memiliki kesempatan untuk tumbuh lebih besar, meningkatkan daya saing dan pada akhirnya siap menjadi perusahaan terbuka yang berkontribusi bagi perekonomian Indonesia.

Bagi perusahaan yang ingin mengenal lebih jauh mengenai proses, persyaratan, dan persiapan menuju go public, informasi selengkapnya dapat diakses melalui website Go Public BEI.(*)





BERITA BERIKUTNYA
loading...