BI Jambi Ajak Jurnalis Gali Konektivitas Candi Muarojambi dan Borobudur untuk Dongkrak Pariwisata

Senin, 05 Oktober 2026

Foto bersama jajaran Bank Indonesia dengan Forum Wartawan Ekonomi Bisnis (Forweb) Jambi dengan latar belakang Candi Borobudur. Foto bawah, Deputi Kepala Perwakilan BI Provinsi Jambi, Robby Fathir Nashary.
Foto bersama jajaran Bank Indonesia dengan Forum Wartawan Ekonomi Bisnis (Forweb) Jambi dengan latar belakang Candi Borobudur. Foto bawah, Deputi Kepala Perwakilan BI Provinsi Jambi, Robby Fathir Nashary. (istimewa/onlinejambi.com)

ONLINEJAMBI.COM – Kemegahan Candi Borobudur di Jawa Tengah ternyata menyimpan benang merah yang kuat dengan peradaban kuno Kompleks Candi Muarojambi di Provinsi Jambi.

Guna menyingkap dan merangkai kembali konektivitas sejarah yang sempat meredup ini, Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Jambi memboyong 33 jurnalis Forum Wartawan EKonomi Bisnis (Forweb) Jambi ke Candi Borobudur pada Sabtu (3/10/2026), sebagai langkah awal mendongkrak potensi wisata dua daerah.

Deputi Kepala Perwakilan BI Provinsi Jambi, Robby Fathir Nashary, menjelaskan bahwa penguatan narasi sejarah kedua kawasan ini dapat menjadi strategi promosi wisata yang efektif untuk menghubungkan Jambi dengan Yogyakarta dan Jawa Tengah.

"Kita mengharapkan orang yang datang ke Yogyakarta, kemudian tertarik datang ke Jambi. Narasi keterkaitan ini perlu dikemas menjadi cerita wisata (storytelling) yang menarik agar masyarakat makin mengenal kedua warisan budaya tersebut," ujar Robby usai mendampingi rombongan.

Pusat Pendidikan Dunia dan Hubungan Muarojambi-Borobudur

Berdasarkan literatur sejarah dan catatan musafir Tiongkok, I-tsing, Kompleks Candi Muarojambi pada abad ke-7 merupakan pusat pendidikan tinggi agama Buddha yang sangat berpengaruh.

I-tsing bahkan menyarankan para biksu untuk belajar terlebih dahulu di Sumatra (Muarojambi) sebelum melanjutkan studi ke Universitas Nalanda di India, yang kala itu merupakan kampus Buddha terbesar di dunia.

Arkeolog Candi Muarojambi, Dr. Agus Widiatmoko, mengungkapkan bahwa pada masa kejayaannya, Kerajaan Sriwijaya mengutus banyak mahasiswa ke Universitas Nalanda dan membangun 2.000 kamar serta perpustakaan khusus di sana.

Ketika Universitas Nalanda hancur akibat invasi asing, pusat keilmuan tersebut diperkirakan berpindah ke Muarojambi. Para lulusannya bahkan tercatat melakukan reformasi keagamaan hingga ke wilayah Tibet.

Hubungan ini juga diperkuat lewat jalur transmisi ajaran guru besar Muarojambi, Dharma Kirti, yang muridnya, Atisha Dipamkara Srijnana, menyebarkan ajaran Buddha hingga ke berbagai belahan dunia.

Sebagai pusat ajaran yang lebih dulu eksis, tata ruang mandala dan acuan keagamaan dari Muarojambi diyakini menginspirasi dinasti pembangun monumen Buddha di Nusantara, termasuk Wangsa Syailendra yang membangun Borobudur pada abad ke-8.

Deputi Kepala Perwakilan BI Provinsi Jambi, Robby Fathir Nashary menilai kemegahan teknologi arsitektur Borobudur mustahil berdiri tanpa landasan ilmu pengetahuan matang yang dipelajari dari pusat penyebaran agama Buddha terbesar pada masanya.

Bukti Arkeologis dan Solusi Tantangan Pariwisata Jambi

Bukti konkret interaksi antarwilayah ini terlihat dari penemuan artefak Makara berbahan batu andesit di pintu gerbang Candi Kedaton, Muarojambi. Penemuan ini sangat istimewa karena wilayah Jambi secara geografis tidak menghasilkan batu andesit, dan seluruh struktur Candi Muarojambi terbuat dari bata merah.

Keberadaan batu andesit ini mengindikasikan adanya figur maha guru yang sangat dihormati di Muarojambi, di mana para tokoh penting dari luar daerah membawa batu tersebut sebagai bentuk penghormatan.

Di sisi lain, Robby mengakui bahwa belum adanya bandara internasional menjadi tantangan tersendiri bagi pariwisata Jambi dalam menggaet wisatawan mancanegara (wisman) secara langsung.

Oleh karena itu, membangun kemitraan pariwisata dengan Yogyakarta sebagai salah satu gerbang utama pariwisata nasional dinilai menjadi solusi strategis.

"Yogyakarta dapat menjadi partner dan pintu masuk bagi wisman sebelum mereka melanjutkan perjalanan ke Jambi. Kerja sama ini akan memberikan keuntungan timbal balik bagi sektor pariwisata kedua daerah," tambahnya.

Sementara itu, storyteller Museum Borobudur, Dayat, yang turut memberikan penjelasan dalam kunjungan tersebut menegaskan bahwa masyarakat Indonesia harus bangga karena Nusantara telah memiliki peradaban tinggi dan pusat pembelajaran dunia di Muarojambi sejak berabad-abad lalu.(*)





BERITA BERIKUTNYA
loading...