Adaptasi Berkelanjutan, PT. KAI Tetap Tangguh dan Tumbuh

Rabu, 15 September 2021

(ist/onlinejambi.com)

ONLINEJAMBI.COM - Sejak pandemi Covid-19 melanda Indonesia awal tahun 2020, adaptasi, inovasi, dan kolaborasi dilakukan PT. Kereta Api Indonesia (KAI) secara berkelanjutan demi memberikan rasa aman dan nyaman, baik bagi pelanggan maupun masyarakat.

Selain memberikan rasa aman dan nyaman, KAI juga berupaya menjaga performa bisnis selama pandemi. “KAI berkomitmen untuk tetap tangguh dan tumbuh di masa pandemi Covid-19,” ujar Direktur Utama PT. KAI, Didiek Hartantyo.

Dikatakan Didiek, seperti perusahaan lainnya, KAI juga terdampak akibat pandemi. Rata-rata harian penumpang kereta api jarak jauh pada Juli 2021 hanya 10 ribu penumpang, turun 91% dibanding rata-rata sebelum pandemi yakni Januari hingga Maret 2020 sebanyak 116 ribu penumpang per hari.

Penyebab turunnya jumlah penumpang, karena berbagai pembatasan aktivitas masyarakat yang membuat KAI mengurangi perjalanan kereta api sebagai upaya mendukung pemerintah untuk memutus penyebaran Covid-19.

Selama pandemi, kata Didiek, KAI menerapkan protokol kesehatan (Prokes) yang sangat ketat  sesuai Surat Edaran Kemenhub No 69 tahun 2021. Yakni, Pelanggan diminta untuk memakai masker, mencuci tangan dengan sabun di air mengalir, menjaga jarak, menjauhi kerumunan, mengurangi mobilitas, menghindari makan bersama, dan menggunakan hand sanitizer.

Pelanggan harus dalam kondisi sehat (tidak menderita flu, pilek, batuk, hilang daya penciuman, diare, dan demam), dan suhu badan tidak lebih dari 37,3 derajat celsius. Pelanggan diwajibkan untuk menggunakan masker kain 3 lapis atau masker medis yang menutupi hidung dan mulut. Pelanggan juga tidak diperkenankan untuk berbicara satu arah maupun dua arah melalui telepon ataupun secara langsung sepanjang perjalanan.

Tidak diperkenankan untuk makan dan minum sepanjang perjalanan bagi perjalanan yang kurang dari 2 jam, terkecuali bagi individu yang wajib mengkonsumsi obat dalam rangka pengobatan yang jika tidak dilakukan dapat membahayakan keselamatan dan kesehatan orang tersebut.

“Untuk naik kereta api jarak jauh, pelanggan diharuskan sudah divaksin minimal dosis pertama dan menunjukkan surat keterangan hasil negatif tes RT-PCR maksimal 2x24 jam atau Rapid Test Antigen maksimal 1x24 jam sebelum jadwal keberangkatan,” ujar Didiek.

Sedangkan untuk kereta api lokal, mulai 14 September pelanggan diharuskan sudah divaksin minimal dosis pertama. Untuk dokumen STRP, surat tugas, atau surat keterangan lainnya sudah tidak lagi menjadi syarat untuk naik kereta api lokal.

KAI secara ketat dan konsisten memastikan seluruh pelanggan menerapkan prokes secara disiplin. KAI hanya mengizinkan pelanggan yang sesuai persyaratan untuk naik kereta api.

Penerapan prokes yang ketat ini sudah dirasakan Muhammad Alif. Alif yang berprofesi sebagai dosen di Jambi ini pernah naik kereta api jurusan Jakarta Bogor di masa pandemi.

“Prokesnya begitu ketat. Saat mau naik mapun selama perjalanan dalam kereta api. Seperti mengenakan masker, jaga jarak, dan lainnya,” ujarnya.

Dia menilai kebijakan KAI yang melakukan adaptasi  secara berkelanjutan seiring perkembangan kasus Covid-19, sebagai langkah baik untuk keamanan dan kenyamanan penumpang.

Prokes yang ketat ini, tidak hanya diberlakukan kepada penumpang. Hal sama diberlakukan kepada pegawai KAI. Selain menerapkan prokes, hingga Juni, KAI telah memvaksin 33 ribu pegawainya dan akan terus berlanjut hingga seluruh pegawai divaksin.

Pelayanan terbaik tidak hanya KAI lakukan untuk penumpang saja. Selama Covid-19, KAI melalui anak perusahaannya, KAI Logistik, memberikan diskon khusus untuk pengiriman obat-obatan, alat pelindung diri (APD), dan alat medis lainnya.

Pandemi Harus Jadi Momentum bagi KAI

Adaptasi yang dilakukan KAI ini menurut DR Pantun Bukit, pengamat transportasi dari Universitas Batanghari Jambi, sesuatu yang memang harus dilakukan.

“PT. KAI ini kan BUMN. Jadi harus benar-benar menjadi contoh bagi perusahaan lain terkait prokes. Mau tidak mau harus dijalani,” ujarnya kepada Onlinejambi.com.

Dikatakan Pantun, pandemi harus menjadi momentum bagi KAI. Harus tetap bisa bersaing dengan pendapatan yang minim. KAI harus beradaptasi, berinovasi, dan berkolaborasi. Menyesuaikan kondisi, tidak bisa terus memaksakan keuntungan dari angkutan penumpang. Optimalkan angkutan barang.

“Selama ini dari angkutan penumpang, sekarang kinerja angkutan barang harus digenjot. Lakukan kolaborasi dengan perusahaan lain seperti Bukalapak, Tokopedia, Shopee, dan lainnya sehingga bisa bertahan di tengah kondisi seperti sekarang,” sarannya.

Mencari keuntungan pada masa Covid-19, kata Pantun, pasti susah, tapi minimal bisa bertahan. Apalagi di Jawa, penjualan barang meningkat. Kereta api bisa lebih murah dan terjamin. Setidaknya bisa menurunkan jumlah kerugian akibat menurunnya jumlah penumpang. Ini strategi yang benar.

“Mungkin memang belum signifikan, tapi setidaknya bisa mengurangi jumlah kerugian. Ke depan, KAI harus tetap sehat. Tetap jaga kepercayaan masyarakat yang selama ini sudah baik,” ujarnya.

Pantun mengatakan, selama pandemi, dari laporan kinerja KAI, angkutan penumpang rata-rata hanya terisi 10 persen dari kapasitas.

“Ini sangat jauh dari break event point (BEP) apalagi untung. Ini sudah pasti rugi. Yakin rugi. Biaya tidak tercukupi. Ini konsekuensi dari bisnis,” ujarnya.

Meski rugi, KAI harus tetap operasional dengan prokes yang sangat ketat. Bisa saja nanti akan ada suntikan dana dari pemerintah, misalnya dengan penyertaan modal, meningkatkan kewajiban pemerintah untuk setor ke KAI. Beda dengan perusahaan swasta yang mau tidak mau harus menyetop sementara operasional dan merumahkan karyawan.

Pantun berharap pandemi berakhir dan  KAI bisa mendapatkan keuntungan maksimum. Saat keuntungan maksimum didapat, KAI juga jangan sampai lupa untuk menyimpan sebagian keuntungan untuk berjaga-jaga jika kondisi seperti sekarang kembali terulang.

Optimalkan Angkutan Barang

Direktur Utama KAI Didiek Hartantyo mengatakan, di luar bisnis angkutan penumpang, KAI meyakini bisnis angkutan barang adalah salah satu kunci menjaga performa bisnis selama pandemi. KAI terus bekerja keras dalam meningkatkan performa angkutan barang ini.

Mengakhiri semester I tahun 2021, kinerja angkutan barang KAI terus menunjukkan tren positif. Pada Januari hingga Juli 2021 KAI melayani angkutan barang sebanyak 28,2 juta ton, naik 8,9% dibanding periode yang sama 2020 lalu, dimana KAI mengangkut 25,9 juta ton barang. 

“Kenaikan volume barang yang KAI layani ini sangat penting bagi KAI untuk tetap survive di tengah kondisi pandemi Covid-19 yang masih berlangsung,” ujar Didiek.
Terus bertumbuh juga dibuktikan KAI dengan tetap berprogresnya pekerjaan untuk proyek strategis nasional yang telah diamanahkan Pemerintah kepada KAI, meski di masa pandemi.

Untuk proyek LRT Jabodebek misalnya, per 30 Juli 2021 progres pekerjaan telah mencapai 73,31%. Sementara untuk proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung progres fisiknya sudah mencapai 54,16%. 

Kondisi pandemi memang sedikit banyak mempengaruhi capaian target penyelesaian pekerjaan, namun KAI melakukan upaya maksimal dengan intens berkoordinasi dengan para stakeholders.

Pemantauan dan pengawasan secara langsung tetap dilakukan, proses-proses pengujian pun didorong agar dilakukan percepatan. KAI juga membentuk Project Management Officer (PMO) yang memantau proyek untuk menjamin kelancaran proyek secara keseluruhan. 

KAI bertekad akan menjalankan amanah penugasan tersebut agar semakin banyak masyarakat yang dapat merasakan layanan transportasi massal berbasis rel yang nyaman dan maju. 

“Gencarnya pengembangan transportasi berbasis rel yang tengah dikerjakan KAI ini memiliki tujuan untuk menghadirkan moda transportasi yang terintegrasi dan memudahkan masyarakat dalam mobilitasnya. Kemajuan ini nantinya diharapkan tidak hanya akan menambah volume angkut semata, tapi juga memberikan manfaat nyata bagi masyarakat yang juga berimbas bagi kemajuan bangsa,” tandas Didiek.

Selain bisnis angkutan penumpang dan barang, KAI juga terus mengoptimalkan pengusahaan asetnya melalui bisnis Komersialisasi Non Angkutan. Upaya tersebut KAI lakukan untuk meningkatkan kinerja perusahaan melalui banyaknya aset potensial yang dimiliki KAI untuk diusahakan.

Upaya lain yang KAI lakukan agar dapat menekan kerugian adalah menjaga likuiditas dengan mengoptimasi bantuan dari pemerintah melalui dana Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) dan efisiensi ataupun penghematan.

Tantangan KAI ke depan adalah untuk tetap bertahan di masa pandemi yang belum berakhir. Adaptasi, inovasi, dan kolaborasi menjadi kunci penting untuk KAI agar tetap bertumbuh di dalam situasi krisis ini.(*)





BERITA BERIKUTNYA
loading...