Percepat Laju Ekonomi Nasional, KBI Inovasi Resi Gudang

Rabu, 25 Agustus 2021

Direktur Utama PT. Kliring Berjangka Indonesia (Persero), Fajar Wibhiyadi.
Direktur Utama PT. Kliring Berjangka Indonesia (Persero), Fajar Wibhiyadi. ()

ONLINEJAMBI.COM - Pemanfaatan Resi Gudang menjadi salah satu fokus utama PT. Kliring Berjangka Indonesia (Persero) untuk mempercepat laju perekonomian nasional.

Inovasi terus dilakukan agar manfaat Resi Gudang dapat benar-benar dirasakan semua pihak yang terlibat dalam pemanfaatan Resi Gudang ini, baik petani, bank, pemerintah, pedagang, pabrikan maupun pergudangan.

Direktur Utama PT. Kliring Berjangka Indonesia (Persero), Fajar Wibhiyadi mengatakan, sebagai Pusat Registrasi Resi Gudang, PT. Kliring Berjangka Indonesia (Persero), selanjutnya disingkat KBI, bersama otoritas serta pemangku kepentingan lainnya, akan terus melakukan sosialisasi dan edukasi terkait pemanfaatan Resi Gudang, khususnya di sentra-sentra komoditas unggulan. “Sejauh ini pemanfaatan Resi Gudang terus tumbuh,” ujar Fajar.

Fajar mengatakan, sepanjang tahun 2020, jumlah Resi Gudang yang diregistrasi mencapai 428 RG dari 8 komoditas dengan volume 9.53.717 kg senilai Rp200,784 miliar. Sedangkan di tahun 2021, semester I saja, jumlah Resi Gudang yang diregistrasi sudah mencapai 230 RG.

“Jumlah ini mengalami peningkatan sebesar 49% dibandingkan periode yang sama di tahun 2020, dimana Resi Gudang yang diregistrasi mencapai 154 RG,” ujarnya.

Dari sisi jumlah komoditas, kata Fajar, sepanjang semester I 2021, jumlah komoditas yang masuk Resi Gudang mencapai 10 komoditas. Sedangkan di periode yang sama di tahun 2020, jumlah komoditas yang masuk Resi Gudang mencapai 6 komoditas.

Dari sisi volume barang, sepanjang semester I 2021 total volume komoditas yang diresigudangkan mencapai 5.517.288 kg, atau meningkat sebesar 44% dibandingkan periode yang sama di tahun 2020, dimana tercatat sebanyak 3.823.248 Kg.

Sedangkan dari sisi nilai barang, sepanjang semester I 2021 total nilai barang yang diregistrasikan ke Resi Gudang mencapai Rp170,995 miliar, meningkat 124% dibandingkan semester I 2020, dimana nilai barang yang diresigundangkan mencapai Rp76,186 miliar.

Selain sosialisasi dan edukasi, kata Fajar, inovasi terutama terkait teknologi terus dilakukan. KBI telah memperbarui sistem registrasi dengan mengadopsi teknologi blockchain dan smart contract melalui Aplikasi IsWare Next Gen.

“Dengan aplikasi ini, petani dan pemilik komoditas dapat melakukan registrasi dengan cepat dan aman,” ujarnya.

Fajar mengatakan, meningkatnya pemanfaatan Resi Gudang menunjukkan bahwa petani dan pemilik komoditas mulai memahami manfaat instrumen ini.

Karenanya, Resi Gudang memiliki potensi besar untuk terus tumbuh, melihat banyaknya komoditas yang ada di Indonesia. Tantangannya adalah bagaimana manfaat Resi Gudang ini dapat dipahami oleh para petani dan pemilik komoditas.

Sebagai instrumen untuk menjaga stabilitas harga, kata Fajar, sudah selayaknya Resi Gudang menjadi solusi bagi petani dan pemilik komoditas. Selain itu, dengan memanfaatkan Resi Gudang, petani dan pemilik komoditas dapat menjaminkan Resi Gudangnya untuk mendapatkan pembiayaan.

"Kuncinya adalah bagaimana sosialisasi dan edukasi dapat dilakukan secara baik dan terus menerus. Untuk itu, kami bersama pemangku kepentingan lain di sektor Resi Gudang, terus melakukan sosialisasi dan edukasi terkait manfaat Resi Gudang kepada masyarakat, baik itu petani, pemilik komoditas maupun para pengelola gudang," ungkap Fajar.

Terkait pemanfaatan Resi Gudang, sesuai Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 14 Tahun 2021 yang merupakan Perubahan atas Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 33 Tahun 2020 tentang Barang dan Persyaratan Barang yang dapat Disimpan dalam Sistem Resi Gudang, komoditas yang dapat masuk ke Sistem Resi Gudang meliputi Beras, Gabah, Jagung, Kopi, Kakao, Karet, Garam, Lada, Pala, Ikan, Bawang Merah, Rotan, Kopra, Teh, Rumput Laut, Gambir, Timah, Gula Putih Kristal, Kedelai serta Ayam Karkas Beku.

Perlu Libatkan Pemerintah Daerah 

Pengamat Ekonomi dari Universitas Batanghari Jambi, Dr. Pantun Bukit mengatakan, Sistem Resi Gudang apabila dimanfaatkan oleh petani dan pemilik komoditas, akan mampu menjadi pendorong ekonomi masyarakat.

“Resi Gudang hadir untuk melindungi dan jaminan ketersediaan pangan. Jadi Resi Gudang ini sangat penting,” ujarnya.

Karena itu, kata Pantun, perlu langkah strategis untuk terus menyosialisasikan Resi Gudang ini oleh semua pemangku kepentingan.

“Sosialisasi dan edukasi harus terus dilakukan. Termasuk melibatkan pemerintah daerah,” ujarnya.

KBI, kata Pantun, tugas pokoknya melakukan akselarasi perdagangan di Indonesia, salah satunya melalui Resi Gudang. Melalui Resi Gudang ini, KBI bisa memberi jaminan terhadap komoditas yang disimpan.

“Saat petani atau pemilik komoditas ingin memasukkan komoditas ke gudang tapi tidak ada jaminan, mereka tidak akan berani. Tapi jika ada yang menjamin seperti yang dilakukan KBI, tentunya aset mereka akan terjamin dan merasa lebih aman,” ujarnya.

Resi Gudang, kata Pantun, sejatinya bisa jadi Surat Berharga. Dengan adanya itu petani dan pemilik komoditas tidak akan takut. Bisnis pun akan berjalan baik. “Intinya bisa mendorong percepatan perekonomian di Indonesia,” ujarnya.

Tentu, kata Pantun, selain terus melakukan sosialisasi dan edukasi,

KBI harus melakukan inovasi secara terus menerus. Baik itu gudangnya, jenis komoditas yang diterima, lama masa penyimpanan komoditas, dan juga sistem serta teknologi. “Jangan pernah berhenti untuk berinovasi,” tandasnya.

Selain itu, KBI juga harus lebih intens, tidak hanya pada perusahaan besar, tapi juga pada pelaku ekonomi menengah.

“Orientasi juga tidak hanya profit, tapi akselerasi percepatan ekonomi nasional melalui Resi Gudang untuk semua komoditas. Biaya administrasi juga jangan terlalu tinggi sehingga semua mampu untuk memanfaatkan Resi Gudang,” ujarnya.

Pemerintah, termasuk di daerah harus memperhatikan hal ini sehingga ekonomi bergerak terus. KBI mau tidak mau juga harus melibatkan pemerintah daerah. Tujuannya, agar perekonomian di daerah bisa tumbuh melalui akselerasi pemanfaatan Resi Gudang. 

“Dengan Resi Gudang risiko dapat dihindari, sehingga kerugian bisa diminimalkan jika ada kejadian yang tidak terduga,” ujarnya.

Apalagi, kata Pantun, perekonomian daerah sekarang ini sangat cepat berkembang terutama di Sumatra.

“Kita berharap kehadiran tol Sumatra nanti akan lebih mempercepat akselerasi pertumbuhan ekonomi. Berkenaan dengan itu kita berharap pemerintah daerah juga bisa berperan aktif bekerjasama dengan KBI dalam pengaturan perdagangan antardaerah maupun antarpulau terutama terkait Resi Gudang,” tandasnya.

Sementara itu, Plt. Kabid Perdagangan Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jambi, Zidni Aisyah mengatakan, sosialisasi dan edukasi terkait Resi Gudang di Provinsi Jambi sudah sering dilakukan bersama KBI dan pemerintah pusat.

“Untuk pelaksanaan lelang dan Resi Gudang di daerah sebenarnya bisa didelegasikan ke bank daerah, salah satunya Bank Jambi yang pernah memberikan pinjaman tapi baru sebatas kontrak lelang,” ujarnya. 

Zidni mengatakan sampai saat ini, pemanfaatan Resi Gudang di Jambi memang belum ada. Namun, wacana untuk itu tetap ada.

“Harapan kita memang kabupaten/kota khususnya dan Provinsi Jambi pada umumnya memiliki Sistem Resi Gudang. Pengusulan pembentukan ini oleh pemerintah kabupaten dan kota untuk menjamin ketersediaan stok, memutus mata rantai, dan pengendalian harga untuk komoditas unggulan Jambi. Sekaligus untuk mendukung keberadaan pasar lelang terpadu ke depannya,” tandasnya.(Surtan)





BERITA BERIKUTNYA
loading...