Pandemi Covid-19, Produksi Migas Berjalan, Aset Tetap Terjaga

Kamis, 05 November 2020

Pabrik KKKS PetroChina Jabung Ltd. di Kabupaten Tanjungjabung Tmur, Jambi.
Pabrik KKKS PetroChina Jabung Ltd. di Kabupaten Tanjungjabung Tmur, Jambi. (surtan/onlinejambi.com)

ONLINEJAMBI.COM - Industri hulu migas terus beradaptasi untuk tetap berjalan dan berkelanjutan di tengah kenormalan baru akibat pandemi Coronavirus disease (Covid-19). Transformasi dilakukan agar produksi bisa meningkat.

Berbagai kendala yang muncul terus diantisipasi oleh Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) dan Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) sebagai upaya untuk mencapai target second golden era 1 juta BOPD (Barrel of Oil Per Day) di tahun 2030.

KKKS PetroChina Jabung Ltd., misalnya. Agar tetap berproduksi, manajemen menerapkan protokol pencegahan penyebaran Covid-19 dengan ketat untuk mencegah penyebaran Covid-19 di kantor Jakarta dan khususnya di lapangan operasi produksi Blok Jabung di Kabupaten Tanjungjabung Timur dan Tanjungjabung Barat, Provinsi Jambi.

“Penapisan dan upaya testing yang ketat dilakukan terhadap semua pekerja yang akan masuk wilayah operasi lapangan Jabung. Alhamdullilah operasi produksi sampai dengan saat ini masih dapat berjalan dengan lancar dan aman,” ujar Budi Tyas Utomo, Act. General Manager Jabung.

Berkat upaya tersebut, kata Budi, jumlah lifting minyak, gas, dan kondensat perusahaan cukup baik, di atas target yang ditetapkan dalam APBN 2020.

Dalam laporan Produksi Migas Nasional Q3 2020 yang dirilis SKK Migas baru-baru ini, Blok Jabung termasuk 10 KKKS dengan jumlah lifting terbesar.

Lifting minyak dan kondensat Blok Jabung sebesar 16.113 BOPD, lebih tinggi dari target yang ditetapkan APBN sebesar 15.157 BOPD, dan menempati posisi 7 di antara KKKS lain di Indonesia.

“Sedangkan lifting gas tercatat sebesar 174 MMSCFD, melebihi target APBN sebesar 164 MMSCFD, dan berada di posisi 8 di antara KKKS lain,” tandasnya.

Sementara itu, capaian produksi KKKS Pertamina EP Asset 1 Jambi Field (PEP Jambi) per tanggal  4 November 2020 sudah 98,19 persen dari target yang ditetapkan.

“Target Produksi PEP Jambi 2020 Year to Date (YTD) 3,360 BOPD dan capaian produksi operasi PEP Jambi Field YTD 3, 299 BOPD,” ujar Ani Surakhman, Asset 1 General Manager didampingi Hermansyah, Jambi Field Manager.

Ani mengakui ada kendala dalam kegiatan. Kendala itu yakni adanya penolakan pemboran sumur minyak dari warga Desa Sungai Gelam, Kabupaten Muarojambi dan sekitarnya. Warga khawatir virus Covid-19 menyebar melalui mitra kerja pemboran PEP yang mayoritas dari Palembang, Sumatra Selatan.

“Bahkan terdapat oknum pejabat yang sampai mengeluarkan surat resmi menolak aktivitas pemboran minyak PEP Jambi,” ungkapnya.

Namun, kata Ani, berkat komunikasi dengan forum komunikasi pimpinan tingkat kecamatan, akhirnya warga memahami pentingnya kegiatan pemboran sumur migas untuk ketahanan energi negeri dan komitmen PEP Jambi untuk disiplin menjalan protokol kesehatan di lokasi.

Meski pandemi Covid-19 masih berjalan sampai sekarang, kata Ani, sejatinya ada sisi positifnya bagi perusahaan.

“Seluruh pekerja dan mitra kerja menjadi lebih sadar dengan gaya hidup sehat, disiplin menerapkan protokol kesehatan, dan lingkungan kantor menjadi lebih terjaga kebersihannya karena dilakukan penyemprotan disinfektan secara berkala,” ujarnya.  

Terkait perlindungan terhadap aset hulu migas, Ani mengatakan tim keamanan tetap melakukan patroli rutin ke seluruh wilayah kerja (WK) PEP Jambi.

“Koordinasi juga dilakukan dengan kepolisian dan TNI untuk sinergi pengamanan obvitnas,” ujarnya.

Sebagai pencegahan, perusahaan memasang rambu-rambu obvitnas dan bahayanya di fasilitas produksi sumur dan pipa penyalur PEP Jambi.

Ester Ksatrianto, Act. General Manager MontD'Or Oil Tungkal Ltd mengatakan selama masa pandemi Covid-19, harga minyak dunia terus berfluktuasi dan cenderung turun. Hal tersebut, katanya,  berdampak pada pertumbuhan ekonomi perusahaan dan penerimaan negara.

“Namun, target lifting terus berjalan, SKK Migas - KKKS terus berupaya untuk mengoptimalkan kegiatan eksplorasi dan produksi,” ujarnya.

Kepala Perwakilan SKK Migas Sumbagsel, Adiyanto Agus Handoyo mengatakan banyak tantangan yang dihadapi industri hulu migas dalam memenuhi target produksi.

Selain pandemi Covid-19, masalah lain yang dihadapi yakni natural decline rate produksi, turunnya permintaan (demand), turunnya harga minyak, dan isu terkait tenaga kerja yang perlu mendapat perhatian baik bagi pelaku industri hulu migas maupun para pemangku kepentingan. Yang tidak kalah penting adalah faktor keamanan dalam keberlangsungan kegiatan usaha hulu migas.

“Namun demikian di tengah tantangan tersebut kami, SKK Migas - KKKS akan terus beradaptasi dalam melakukan kegiatan eksplorasi dan juga eksploitasi, baik itu dengan kegiatan survei seismik, pemboran, kerja ulang, dan perawatan sumur demi memenuhi komitmen dalam mencapai target angka produksi yang telah ditetapkan,” ujarnya.(surtan)



Tags:


BERITA BERIKUTNYA
loading...